Diposkan pada Tak Berkategori

Kisah Tak Berjudul

Langkah kakinya khas di telinga kami. Dengan pakaiannya yang sangat rapih, beliau laksana negarawan. Sepatu pantopel yang mengkilat, peci beludru hitam legam yang kokoh menancap di kepala, dan badannya yang tegap selalu menyita perhatian kami. Beliau khas dengan sosoknya, nama “Sastranegara” mewakili separuh sosoknya yang penuh karisma itu. Kami memanggilnya ustadz Emon.

Ustadz yang satu ini terkenal dihindari oleh para santri saat akan berpapasan, pasalnya beliau selalu meminta kami berjongkok untuk memungut sampah yang berserakan. (Ah.. dasar santri, diajak berbuat kebaikan malah menghindar). Ustadz penu kharisma ini, memiliki wibawa yang tidak dimiliki ustadz lain, beliau sangat berkarakter. Bagi kami, ustadz emon ini unik. Beliau tidak galak terhadap santri-santrinya, karena yang kami tahu belum pernah ada cerita beliau memarahi santri-santrinya, tapi semua santrinya sepakat untuk segan terhadap beliau.

Kelas tiga mu’alimien (setara aliyah) adalah tingkat akhir yang harus kami selesaikan dengan baik, agar titel santri tak berakhir saat kami lulus nanti, namun mengakar sampai kami miliki cucu bertitel santri pula. Oleh karenanya, ustad-ustadz terbaik ditunjuk agar kami mendapat bimbingan terbaik pula, yang salah satunya adalah ust. Emon Sastranegara.

Pagi itu, kami melaksanakan ujian lisan. Tapi kami merasa sedang disidang. Bagaimana tidak, aku dan kawan-kawan akan ujian tahfidz, berikut tajwid, tasrif dan nahwiyahnya. Aku yang tidak mahir nahwiyah dan tasrif keringat dingin saat akan ujian, ditambah aku berada diabsen ke dua saat dalam urutannya. Kawanku diasensi pertama sudah keluar ruangan, ini artinya giliranku berjuang. Saat menuju ruangan, mulutku komat-kamit, membaca doa nabi Musa agar kelancaran ujian lisanku tak terbata-bata.

Saat masuk ruangan, ust. Emon bertanya “Namanya siapa?” aku jawab dengan tegas, “Farah Fatihah” ustadz pun kembali bertanya,

“Kemari disuruh menghafal surat apa saja untuk ujian lisan?”

An-naba, al-Mulk, al-Qiyamah, sama ar-rahman” jawabku sambil mengingat urutannya

“Ok, sudah siap?” tanya ustadz mengkonfirmasi

“insyaallah ustadz”

“Hafal semua?”

insyaallah ustadz, dicoba”

“Mau surat apa dulu?” tawar ustadz kepadaku

“Bagaimana ustadz saja” jawabku pasrah

ustadz pun mulai memberiku pilihan, “Bagaimana kalau surat ar-rahman? Siap?”

Mangga ustadz, aku coba”

Aku pun melafadzkan istiadzah dan basmalah dengan irama murotalku yang masih alakadarnya. Mencoba membaca surat ar-rahman hingga tuntas dengan tartil. Ustadz Emon mendengarkan dengan seksama sembari memejamkan matanya, beberapa kali ustadz membenarkan hafalanku. Dua ayat terakhir, aku melihat ustadz menuliskan nilai untukku, masing-masing 95 untuk tahsin dan tahfidz. Aku mengakhiri surat ar-rahman sambil tersenyum, bukan karena nilaiku yang 95, tapi karena aku pasti selamat dari pertanyaan nahwiah, tasrif, dan tiga surat sisanya.

Tabarakamusrobbika dziljalaali walikraaam” tuntasku dalam hafalan ar-rahman. Aku menunggu perintah dari ust, entah untuk menjawab pertanyaan berikutnya atau untuk menyudahi ujian ini. “Ya, alhamdulullah. Cukup. Tolong panggilkan temannya yang lain, ya!” perintah ustad. Akupun berlalu, meninggalkan ruang ujian dan memanggil kawanku yang lainnya.

Ujian lisan bersama ustadz Emon berasa baru kemarin lusa aku lalui, begitupun perasaanku saat aku menerima raport dari al-ustadz. Masih teringat senyum, tutur dan matanya yang berkaca-kaca saat aku dan kawan satu jelasku memberikan kenang-kenangan yang tidak ada apa-apanya dibandingkan pengajaran ilmu tauhid yang ustadz berikan, dan curahan waktunya untuk membimbing kami di kelas 3 Mu’allimien, 10 tahun yang lalu. Kemarin, ustadz telah kembali menghadapNya. Aku yakin, umur ustadz panjang dan barakah. Semoga segala kebaikan ustadz kepada kami menjadi amal jariyah yang tidak akan pernah terputus diterima. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, insyaallah al-ustadz husnul khatimah.

Iklan
Diposkan pada Tak Berkategori

Menjawab Keresahan Bunda Tentang Motorik Anak

Judul Buku : Tuntas Motorik (Investasi Sepanjang Hayat)

Penulis : Ani Cristina

Jumlah Halaman : 88

Penerbit : Filla Press

Isi buku dengan penyajian study case membuat teori motorik dalam buku ini mudah dipahami. Ani Christina pun membagikan hal-hal apa saja yang menjadi sorotan mengapa anak tidak tuntas motorik, yang ciri-cirinya bisa berupa; seseorang yang baca dan tulisnya susah, seringnya kehilangan barang atau barangnya rusak, sulit konsentrasi, terlambat bicara, dan emosi yang labil. Selain mengurai penyebab tidak tuntasnya motorik anak, penulispun membagikan aktifitas-aktifitas yang bisa dilakukan oleh anak guna mengoptimalkan fungsi motoriknya sedini mungkin.

Isi buku ini tidak banyak, bahkan ada beberapa kalimat yang maknanya sering berulang di sampaikan disetiap sub judulnya. Dalam buku inipun terdapat kata yang ditik dua kali dalam safu kalimat, sehingga pembaca mest mengulangi lagi bacaannya agar kalimat tersebut bisa difahami.

Ada beberapa catatan penting dalam buku ini (menurit saya):

  • Persepsi arah adalah bagian dari kemampuan persepsi visual anak, yang akan memberikan kemudahan pada anak saat dia belajar membaca. Agar anak dapat dengan mudah membedakan huruf B dan D, Ba dan Nun.
  • Perkembangan sensorik dan motorik anak yang tidak tuntas di masa kecil bisa menyebabkan kontrol tubuh anak terhadap pergerakan otot dan sendi menjadi tidak terkendali secara penuh
  • Kegiatan mengunyah, menelan, atau menghisap jika tidak berjalan dengan baik dan sempurna akan menjadi penyebab anak mengalami keterlambatan bicara

Selengkapnya, kawan-kawan bisa langsung baca isi bukunya dengan utuh agar mendapatkan oemahaman yang utuh pula.

Diposkan pada My Journey

Mempertanyakan Cemburu

Minggu ini, aku dapat tugas kelompok mata kuliah tafsir tarbawi. Saat dibagi tugas bersama kawan yang lain, aku dan Fauji diminta untuk mencarikan kitab tafsirnya.

Fauji kawan satu kelasku, dia berasal dari Bekasi, gaya bicaranya mirip orang betawi. “Gue-Elu” ciri khasnya. Aku diajarkan ayahku, agar selalu menyamakan gaya berinteraksi dengan lawan bicaraku. Kata Ayah, agar keakraban itu tercipta dan orang lain bisa segan dengan kita. Jadilah aku selalu mengunakan kata “Gue-Elu” dibarengi logatnya saat berinteraksi dengan Fauji.

Saat diberi tugas, hari itu juga aku berjalan bersama Fauji menuju perpustakaan. Langkahku berat karena aku harus melewati selasar masjid tempat kak Nazmi selalu menungguku berlalu. Benar saja, aku melihat dia sedang duduk di sayap kiri masjid, mengobrol dengan teman perempuannya, yang entah itu siapa. Yang jelas, Api cemburi itu seolah bergejolak. Tapi, kenapa aku harus cemburu?

Saat aku berlalu tepat di depan kak Nazmi, aku pura-pura tak melihatnya. Aku fokus ke gedung perpustakaan dan mempercepat langkahku. Fauji mencium geliatku, “Lu kenapa Rin? Pelan-pelan ngapa jalannya!” aku menjawab sembarang, “Panas ji! Gua gak kuat.” Saat sampai di perpus, konsentrasiku diuji. Pemandangan di selasar masjid tadi penyebabnya. Setelah buku tafsir itu kami temukan, aku meminta Fauji untuk mengcopy bagian yang pentingnya saja, sambil beralasan “Gua coba terjemahin dulu di rumah ya, ji!” Fauji memgangguk sambil bertanya, “Lu kenapa Rin? Tadi bilangnya mau selesaikan hari ini juga” Aku menunda jawabannya, aku minta Fauji mengulang pertanyaannya sambil aku memikirkan jawabannya. “Ia ji, gue mendadak kagak mood nih” dan fauji menjawab heran, “Tumben lu! Biasanya semangat banget.”

Dalam perjalanan pulang, aku mengeja rasa ini. Aku berkata dalam hati, merasionalkan apa yang dirasa sejak tadi. Aku menghujani diriku dengan pertanyaan yang kubuat dan ku jawab sendiri. Aku bertanya-tanya, mengapa aku harus cemburi kepada kak Nazmi? Memangnya kak Nazmi siapa aku? Wajar dong kalau kak Nazmi berbincang dengan kawan perempuannya. Mungkin itu memang wanita tepat pilihannya kak Nazmi.

Gawaiku bergetar, ada pesan masuk. Aku menepi, mematikan mesin sepeda motorku. Aku takut kalau ibu yang mengirim pesan, menitip sesuatu yang harus aku bawa sebelum pulang. Aku ambil gawai itu dari dalam saku, saat dibuka ternyata pesan itu dari Kak Nazmi. Dalam pesannya:

“Dik, tadi kakak lihat adik jalan sama ikhwan. Itu siapa?”

Aku yang masih berpura-pura menjawab pesan singkatnya : “Hah, lihat di mana kaka?”

“Tadi, pas di masjid. Kayanya adik mau ke perpus ya? Ada apa ke perpus sama ikhwan itu?”

Aku merasa diintrogasi oleh kak Nazmi, dia kok ingin tahu banget aku tadi dengan siapa dan mau apa. Aku jawab sekenaku:

“Itu tadi temen satu kelas adik. Namanya Fauji, kita mau cari kitab tafsir buat tugas kuliah”

Aku si perasa dan si analisis menebak pesan yang kak Nazmi kirim, aku merasa kak Nazmipun sama sepertiku. Kak Nazmi cemburu saat melihatku berjalan bersama Fauji tadi. Kak Nazmi memang bukan siapa-siapa bagiku, kami tidak punya ikatan atau hubungan spesial. Dia hanya menganggapku adik sendiri sejak di Aliyah. Kami sering berkomunikasi, walau hanya sekedar basa-basi, karena itulah cara kami menjaga silaturanmi ini.

Aku yang juga dekat dengan sahabat-sahabatnya kak nazmi semasa Aliyah sering diberitakan oleh mereka, bahwa katanya kak Nazmi memang menyimpan perasaannya padaku. Aku tak bisa menepis perkataan mereka, karena akupun merasakan hal yang sama. Dan entah, lama kelamaan akupun menyimpan perasaan yang serupa pada kak Nazmi.

Diposkan pada review buku

Menemukan Benang Merah: Fatherless Country

Apakah kita akan menjadi bangga, ketika Indonesia mendapat peringkat negara ke-4 di dunia? Rasanya ya, jika peringkat ini predikat untuk kebaikan dan sebuah prestasi. Namun sayangnya, peringkat ini untuk negri yang memiliki sebutan : Fatherless country (Negri Tanpa Ayah). Istilah ini bukan berarti menggambarkan Indonesia memiliki jumlah kaum lelaki yang lebih sedikit dari pada kaum wanita, tapi istilah ini muncul dengan sebab; adanya fisik seorang ayah, namun secara batin ayah itu tidak ada.

Rasanya lumrah sekali di Indonesia ini, ketika seorang ibu memiliki porsi yang lebih banyak untuk mendidik anak-anaknya dibandingkan porsi mendidik seorang ayah. Alasannya, karena ayah sibuk bekerja di luar rumah. Tapi, wahai para ayah! Kewajiban terbesar dan terberatmu bukan mencari nafkah. Beban terberatmu adalah menjaga keluargamu, keluarga yang kau pimpin, keluarga yang kau bangun, keluarga yang kau bina, keluarga yang kau perjuangkan, agar selamat dari api neraka. Beban ini tak akan terurai, jika kau abai terhadap peranmu.

Wahai ayah! Anak-anakmu tak akan menjadi Qurrata ‘ayun, jika kau hanya berfungsi sebagai mesin ATM. Yang didatangi saat mereka butuh transaksi. Istrimu pun tak akan menjadi perhiasan dunia, jika ia hanya dididik oleh uangmu. Anak dan istrimu butuh kehadiranmu, butuh bimbinganmu, agar engkau, istri dan anakmu selamat dari api neraka.

Fatherless country, muncul saat peran ayah tak hadir di rumah. Anak hanya mendapat peran sosiabilitas (kerjasama, kekompakan, berbagi, dan lain-lain) dari ibunya. Padahal, sang anak butuh dikuatkan egonya, agar ia menjadi pribadi yang memiliki prinsip, memiliki jati diri, memiliki identitas diri, dan memiliki keteguhan hati dalam menjalani hidup. Keterampilan ini, hanya bisa diajarkan oleh sang ayah, sang pemilik ego, dan sang individualis.

Anak laki-laki maupun perempuan, tetap memerlukan “sentuhan” ayah, agar dikemudian hari mereka menjadi pribadi yang utuh, tidak mudah melemah, karena bekal individualitas dan sosiabilitasnya seimbang. Dalam buku ini dijelaskan, karakter orang Indonesia itu rapuh individualitasnya, dan lemah egonya. Makanya, kebanyakan dari kita mudah sekali latah, mudah sekali terpengaruh, mudah sekali terkena sugesti.

Wahai ayah, pulanglah ke rumah dan didiklah anak-anak anda. Andalah sang ego itu, dan andalah pendidik egi dan individualitas itu, agar anak anda dapat berkata: TIDAK!!!

Untuk membangun individualitas pada anak di bawah usia tujuh tahun, perlu kiranya para orangtua menghindari pendidikan yang menyeragamkan anak satu dengan anak yang lain. Bandingkan sang anak dengan anak yang lain hanya pada masalah ketaqwaan saja. Kemudian, berikan ia ruang propertinya sendiri, ajarkan dan beri ia kesempatan untuk mempertahankan propertinya, mempertahankan miliknya, mempertahankan haknya. Agar kelak ia tidak mudah melepas properti pribadinya, bahkan melepaskan keperawanannya, kegadisannya. Biarkan ia mempertahankan hak milik, jangan mudah mengintervensi anak pada saat sedang mempertahankan haknya, propertinya. Biarkan ia berjuang sejak kecil untuk itu. Ini semua bisa dilakukam oleh anak, ketika ayah sang ego menjalankan perannya di rumah.

Buku: “Menjadi Ayah Pendidik Peradaban” dengan tebal 140 halaman ini, membuat saya tercenung, berpikir lebih banyak, tertampar lebih sering. Semua yang pernah saya dapat tentang pendidikan, tentang parenting, seolah dibenturkan oleh pemikiran ustd Aad ini. Buku ini ibarat menu empat bintang dalam pemberian MPASI, isinya tidak hanya karbohidrat dan berbagai protein, tapi juga berisi berbagai nutrisi dan manfaat, agar pembaca diberikan makanan terbaik untuk kehidupannya.

Saya, menyelesaikan buku ini dua puluh dua hari. Dibaca tidak rutin, namun saya menyempatkan membaca buku ini. Ada kutipan yang saya garis bawahi betul-betul dan kutipan yang benar-benar menampar saya.

Tamparan itu keras, ketika ustd. Aad menyampaika, “saat ini kita lebih takut pada dosa adam daripada dosa iblis. Dosa adam itu ibarat lupa menginjak rem, sedangkan dosa iblis itu tidak mau menginjak gas.” Manusia lebih memilih berhati-hati, menghindari dosa, tapi lupa memperbanyak amal. Manusia yang baik itu adalah dia bisa menancap gas, dan mampu nenginjak rem sebelum berhenti.

Catatan pentingnya adalah pendidikan akhlak itu adalah pendidikan pamungkas, pendidikan aqidah adalah permulaannya. So, ajari anak tentang aqidah terlebih dahulu di bawah usia tujuh tahun. Setelahnya, ajarkan ia tentang akhlak. Agar dikemudian hari, ia beramal bukan berdasarkan kebiasaan, tapi berdasarkan keyakinan. Agar dikemudian hari, Akil balignya purna. Anak akil balig adalah mereka yang bersamaan menjalankan shalat dan bertanggung jawab membuang sampah pada tempatnya.

Wallahu ‘Alam

Semoga bermanfaat

#review buku

Diposkan pada Tak Berkategori

Jarak yang Ditempuh 4 Kali Lipat

Sedari dulu, tempat ini memang sepi. Tapi, diwaktu-waktu tertentu tempat ini bisa ramai. Biasanya, tempat ini mulai ramai saat anak-anak ngaji mulai berdatangan, atau sesaat anak-anak pulang dari sekolahnya masing-masing.

Dulu, aku dan teman-teman pulang sekolah saling menyamper. Kemudian kami kumpul di satu titik, biasanya di depan rumahku. Lalu kami pergi bergelrombol ke basecamp. Bagi kami, kebon adalah basecamp terindah yang kami punya. Sebetulnya basecamp kami disebelah kanan foto, tapi kami menggunakan jalur ke kiri, mengitari sepanjang jalan hegarmanah kulon ke arah wetan hanya untuk sampai di basecamp yang jarak sebenarnya hanya 5 meter dari rumahku, tapi harus kami tempuh 4x lipat. Ya, namanya juga anak-anak. Energi kami seolah terisi penuh saat pulang sekolah. Hehe…

Kini, tempat ini masih sama seperti dulu. Namun lebih sepi, karena anak yang mengaji lebih sedikit dari dulu, yang bermain pun hanya segelintir anak paling banyak 5 orang, tidak bergerombol seperti gerombolan gengku waktu kecil. Entah kemana anak kecil itu sekarang, generasi kedua kami (aku dan teman-teman) masih berusia balita. Dan rata-rata setelah menikah, kami tidak tinggal lagi di Gg. Bpk Ace ini. Yang masih tinggal di sinipun sudah jarang aku temui, mungkin mereka sibuk di kantornya, di sekolahnya, bahkan mungkin sangat sibuk we time dengan keluarga kecilnya….

Semenjak SMA, kami sudah jarang bertemu. Paling beberapa kali saja kami bertemu. Sesekali aku mendengar kabar dari ibuku, bahwa kawan masa kecilku akan menikah, sedang hamil, mau melahirkan dll. Aku hanya mendengar kabar mereka dari orangtua-orang tua kami….

Satu waktu kami pernah bertemu, tapi hanya bertegur sapa. Tak ada lagi keakraban seperti dulu yang selalu bergerombol kemana-mana. Sapaan kami hanyalah saling senyum dan menganggukan kepala. Istimewa sedikit, kami bertegur sapa dan menambahnya dengan menanyakan kabar yang hanya dijawab sekenanya karena kami harus segera berlalu…

Ah, apapun itu kawan. Masa kecil kita telah utuh dilalui, yang belum tentu anak-anak kita kelak akan merasakannya. Bermain serodotan di tanah, masak-masakan dengan daun dan cobek yang super alami. Membuat peralatan dapur dari kaleng bekas yang kami jumpai di pinggir jalan. Ketawa-ketiwi saat berlempar petasan, adu jotos saat licik bermain kelereng, beradu mulut saat kalah bermain kartu, saling menjambak karena tak mau main hari itu. Aku yakin, saat kita bercerita pada anak kita tentang masa kecil kita, kita dan anak kita akan menangis bersama. Namun dengan alasan yang berbeda, kita menangis haru karena itu amat indah, anak kita menangis (mungkin) haru juga karena mereka tak bisa menikmati masa kecil yang sangat indah kita alami.

Diposkan pada Tak Berkategori

AADP Punya Cerita

Dengan dua puluh dua orang kontributor yang ada, buku antologi ini memiliki ragam rasa yang bisa dinikmati para pembaca saat menyantap setiap diksi yang tersaji. AADP (Ada Apa Dengan Pelangi) adalah judul buku yang diambil dari salah satu judul tulisan antologi ini. Buku dengan tebal 237 halaman ini di dalamnya terdapat empat bagi bahasan, yang pertama Tentang Ibu dan Kekuatan Cinta. Kedua, Tentang Ayah dan Lautan Makna dan ketiga, Tentang Generasi dan Peradaban, dan Keempat Puisi Rantai Cinquain.

Dari empat puluh lima judul tulisan yang ada, terdapat beragam jenis tulisan. Ada cerpen, artikel, puisi juga opini. Antologi ini bernada karya sastra, yang memiliki tema besar “Generasi dan Peradaban”. Para pembaca disuguhi tulisan yang berisi tentang bekal mendidik generasi peradaban. Selain itu, isi bacaannya pun menyampaikan ragam informasi tentang berbagai penyimpang seksual. Dalam tulisannya pun para pembaca diberi wawasan agar pada orang tua dapat menjaga anak-anaknya agar fitrah hidupnya, terutama fitrah seksualitasnya tetap terjaga.

Sayangnya, dari segi layout buku ini kurang rapi. Di badan tulisan terdapat kotak kosong dan dibeberapa judul tulisan ditemukan penulisan sub judul diakhir halaman, kemudian isi dari sub judul itu terdapat di awal tulisan. Layout memang tidak mempengaruhi isi bacaan buku ini, namun sangat mengganggu pembaca ketika sedang menikmati buku ini.

#onedayonebook

#berliterasi2019

Diposkan pada Tak Berkategori

Ada Apa dengan (hafalan) Al-Quran

Semua tentang Al-quran dan hafalan Quran bergerilya di tahun 2018. Aku menangkap ini sebagai hidayah dari Allah yang mesti ku jemput dan sambut dengan baik, lebih tepatnya harus kuperjuangkan. Awal maret 2018, aku yang terlibat dalam OKP Pemudi Persis memiliki agenda family gatering dan kami berkunjung ke museum Bayt Al-quran di Taman Mini Indonesia Indah. Di sana, guid tour menjelaskan kepada kami tentang banyak hal mengenai Al-quran. Dimulai dari penjelasan Quran terbesar, pameran kaligrafi, sejarah al-quran sampai film dokumenter tentang sejarah al-Quran. Pulangnya kami diberi buah tangan masing-masing satu.

Di bulan Juli, aku di buat kaget dengan pengumuman peleburan grup ODOA. Aku masuk di grup A, yang katanya tak banyak tunggakan hafalan dan terhitung jarang merapel setoran. Bagaimana aku tidak kaget, hafalanku mulai amburadul sepanjang akhir juz 3 sampai juz 4. Aku hanya menghafal sekali, aku hafal, aku setorkan, selesai. Ketika diulang aku tak ingat. Begitu terus. Aku malu, hafalanku yang alakadarnya dinilai lain. Aku bertanya dalam hati, “apa gerangankah maksud Allah” Sejak saat itu, aku mulai berfikir memperbaiki hafalanku namun terus begitu, hanya berfikir tidak lantas bertindak untuk memperbaiki. Belum lagi keterlibatanku bergabung dihafalan juz 29, yang aku merasa terpaksa bergabung disana karena hanya sebatas menjalankan program dan malu oleh kawan yang lain. Aku meluruskan niat kembali, tapi niatku masih dangkal “agar aku ada interaksi bersama al-quran” menghafal alakadarnya, begitupun saat murajaah. Sudah hafal ya sudah, akupun lupa.

Empat bulan dipenghujung tahun 2018, aku mendengar walikota baruku memiliki cita-cita agar di kota Bandung ada ribuan penghafal al-quran ditiap kelurahan. Aku heran, kenapa impian walikota yang ini yang aku ingat dan aku dengar, tidak yang lain.

Di bulan Oktober, Forum Komunikasi Guru TKQ (FKPQ) kecamatan menyebar list kegiatan guru-guru. Ada acara workshop, seminar dan juga training of trainer. Kegiatan seminar dan workshop sudah ditentukan temanya, ada pelatihan membaca quran untuk anak TKQ, metode belajar, bermain dan bercerita, dan ada juga hypno parenting. Dari kesemua kagiatan yang ada, aku hanya mengisi dua. Workshop (Belajar, Bermain dan Bercerita) dan TOT. Aku memilih TOT mantap, karena aku suka berbagi dan berbicara. Urusan apa yang akan di TOTkan aku tak memikirkannya. Akhir November aku resmi menjadi salah satu utusan kecamatanku mengikuti acara TOT, qadarullah tema TOT yang akan aku ikuti adalah menjadi garda terdepat mewujudkan cita-cita walikota baruku, mencetak ribuan hufadz di kota Bandung dengan menghafal menggunakan metode TES yang ditraining langsung oleh foundernya yaitu Bang Jemmi Gumilar. Selesai aku mengikuti TOT selama 4 hari, terbersit dalam ingatan “Apakah ini hidayah dari Allah yang harus aku indahkan?” sepanjang 2018 ini “hafidz” adalah tranding topic fikiranku. Tapi aku baru mengamini 50 persennya saja.

30 desember, 1 hari menjelang pergantian tahun Forum Guru Diniyah mengadakan kegiatan, tujuannya agar kualitas guru Diniyah di kecamatan tempatku mengajar meningkat. Aku tak tahu bentuk kegiatan detailnya seperti apa, apakah akan ada ujian, seminar, pelatihan atau apa aku tak tahu. Aku hanya ingin memenuhi kewajibanku sebagai guru diniyah di tempatku mengajar, terlebih lagi aku adalah kepala sekolah di diniyah tempatku mengajar, aku hanya merasa aku memang harus hadir. Saat tanggal 30 tiba, aku hadir dengan penuh antusias padahal sebelum-sebelumnya jika ada kegiatan di sini aku ogah-ogahan. Aku terlambat 30 menit dari jam yang sudah ditentukan, aku mengisi daftar hadir dan diberikan dus snack berikut Quran mungil berjudul “Tikrar” aku bersyukur dalam hati, akhirnya yang menjadi buah bibir saat TOT metode TES terbayar. Aku duduk manis menunggu acara di mulai, aku membaca spanduk kegiatan “Workshop Metode Al-Qalam” kemudian aku membaca apapun yang bisa ku baca, di sebelah kiri spanduk besar itu ada sebuah banner bertuliskan TSA (Touring Sebar Al-Quran), kemudian aku menjawab pertanyaan yang seolah belum pernah ada “Oh,,, jadi Quran Tikrar ini waqaf ya. Alhamdulillah, aku bisa mendapatkannya cuma-cuma”

Acara workshop akhirnya dibuka oleh MC, kemudiam dipanggillah narasumber workshop dan workshoppun dimulai. Saat pa Agus menyampaikan materi, ternyata beliau menyampaikan metode menghafal quran. Metodenya hampir sama dengan metode TES dan Tikrar; Membaca, menghafal, mengulang/menyetorkan hafalan. Namun dalam metode ini ada kegiatan menuliskan apa yang sudah dihafal. Saat dipraktekan, aku merasa mulai cocok dengan metode ini, hafalanku lebih lama kuingat.

Dalam perjalanan pulang, aku menutup lamunan ini dengan prosentasiku yang 100%, bahwa ini adalah hidayah dari Allah yang harus ku jemput dan indahkan. Malam harinya, kukatakan pada suamiku “insyaAllah sepanjang 2019 bunda akan menghafal …. Juz dan akan menghabiskan buku bacaan …. ….. Buah buku bacaan” ia hanya membalasnya dengan senyum penuh harap.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah..

Laa haulaa walaa quwwata illa billah..

Diposkan pada Tak Berkategori

Izinkan Aku Tak Merayakan Hari Ibu Saat Ini

Bu, jangan tanyakan padaku mengapa aku tak mengikuti euforia Mother day setiap tahunnya, yang selalu mereka peringati pada tanggal 22 Desember. Bu, kau telah berhasil mengantarkanku mengetahui arti tasyabuh. Kaupun telah mengajarkan kepadaku bagaimana caranya belajar, mendapatkan ilmu, mengamalkan ilmu dan mencari ridho Allah melalui ilmu.

Sebagai orang yang fakir, aku mulai mencara “mengapa hari ibu diperingati?” kucari sejarahnya. Ternyata, di Amerika Serikat hari ibu dirayakan pertama kali pada tahun 1908, ketika Anna Jarvis mengadakan peringatan atas kematian ibunya di Grafton, West Virginia. Sedangkan, hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928.¹

Kemudian, aku teringat satu file tulisan yang dibagikan oleh sahabatku saat aku ikut merayakan “Teacher day” dalam artikel² itu tertulis:
hukum memperingati suatu peristiwa dapat dikategorikan menjadi empat macam:

Pertama, hari-hari yang dianggap agung oleh syariah dan terdapat dalil yang menunjukkan keutamaannya serta ajuran untuk beribadah dan dibolehkan bergembira pada hari-hari tersebut, seperti hari Jum’at, ‘Iedul fitri, ‘Iedul adha, dan hari-hari Tasyriq. Memperingati hari-hari demikian disyariatkan oleh Islam

Kedua, hari-hari yang tidak terjadi peristiwa apapun padanya dan tidak dianggap agung dan utama oleh syariah, namun diagung-agungkan oleh manusia, sehingga  memiliki keistimewaan dibandingkan hari lainnya, seperti hari Kamis minggu pertama atau malam Jum’at  pada bulan Rajab yang biasa disebut ar-Raghaib, yang dianggap istimewa oleh sebagian kaum muslimin. Pengagungan hari tersebut mulai terjadi sejak abad IV hijriah. Memperingati hari-hari demikian terlarang dalam disyariatkan oleh Islam.

Ketiga, hari-hari yang terjadi suatu peristiwa padanya dan tidak dianggap agung dan utama oleh syariah, namun dianggap penting oleh manusia karena peristiwa itu, sehingga  memiliki keistimewaan dibandingkan dengan hari lainnya, seperti mengagungkan dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, yang lebih dikenal dengan sebutan Mawlid, kelahiran tokoh, kelahiran seseorang, Kawin Emas dan Perak, dan kelahiran organisasi. Memperingati hari-hari demikian terlarang dalam disyariatkan oleh Islam, karena tasyabuh dengan ritual orang-orang kafir yang berkenaan dengan aqidah dan ta’abudi mereka, sebagaimana telah dijelaskan dalam fakta sejarah di atas.

Sehubungan dengan itu, Sekretaris Dewan Hisbah PP Persis, Ustadz Zae Nandang, ketika ditanya: “Bagaimana dengan milad organisasi?” Beliau menjawab: “Milad yang dilakukan sudah termasuk kepada bagian dari aqidah dan ibadah. Jadi untuk organisasi kita, janganlah, harus ada kehati-hatian, kepada yang haram, sebaiknya kita harus hati-hati. Kalau kita tidak selektif, susah memilahnya, karena perbedaannya tipis. Kita harus mampu menhan diri.” 

Keempat, hari-hari yang terjadi suatu peristiwa padanya dan tidak dianggap agung dan utama oleh syariah, namun dianggap penting oleh manusia karena peristiwa itu, namun tidak terdapat tasyabuh dengan ritual orang-orang kafir yang berkenaan dengan aqidah dan ta’abudi mereka, seperti hari kemerdekaan suatu negara, maka hukumnya dibolehkan (Mubah).

Dari sejarah yang kudapat, peringatan hari ibu ternyata karena dua hal, kematian dan ulang tahun. Selama aku belajar, agamaku tak pernah memerintahkan pemeluknya untuk memperingati hari kematian atau menyelenggarakan perayaan hari kelahiran (apapun).

Aku hanya ingin akidahku selamat, tak tercemar sedikitpun oleh sesuatu yang merusak fitrah Allah. Wallahu’alam..

__________________________________

Referensi:

¹ https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Ibu
² KAJIAN MAJELIS SIGABAH EDISI KHUSUS
SELASA, 16 DZULHIJJAH 1439 H / SENIN, 27 AGUSTUS 2018

Diposkan pada Tak Berkategori

Training Of Trainer: Ahlan Quran, Metode TES (Part 1)

Seperti sebuah petunjuk yang tak pernah berhenti Allah hadirkan. Kurang lebih 5 bulan kebelakang semangat menghafal sangat menurut, mungkin ini yang disebut futur. Tapi apa yang dirasa? Selalu merasa ada yang kurang dilakukan. 

Futur itu semakin menjadi, saat satu alasan saya loloskan. Saat itu figur otoritas berkata, “Saya bukan tipe orang yang kuat hapalannya. Gampang ingat, begitupun lupa. Sama-sama gampang.” Merasa ada teman, semakin hari hafalan saya semakin amburadul. Pokoknya asal setor, asal hafal, asal lapor, yaaaaa asal gugur kewajiban sajalah. Kerjaannya selalu merapel storan hafalan di grup one day on ayat, programnya satu hari satu ayat tapi disetor per 3 atau 4 hari.

Bulan lalu, saya setor hafalan satu minggu sekali. Di juz 29 ala kadarnya, di juz 4 sekedarnya. Padahal programnya ODOA (one day one ayat). Lama kelamaan saya merasa membohongi diri saya sendiri, saya meminta untuk mengundurkan diri pada salah satu admin. Tapi teteh admin terus memotifasi saya untuk maju, sedangkan saya terus memotivasi diri untuk mundur. Si teteh admin mulai merasa kewalahan dengan alasan saya untuk mundur, dia hanya membalas “Silahkan, gimana teteh saja” kemudian saya membalas, “Baik teh. Tapi saya akan melunasi hutang saya sebelum saya keluar dari grup dan saya setornya ke teteh aja ya!” si teteh admin pun membalas singkat, “silahkan teh” 

Keesokan harinya, saya melunasi hutang saya. Surat al-mulk, al-qalam dan al-haqqah saya setorkan. Sebelum melapor dan keluar dari grup whatsapp ODOA Juz 29, saya iseng-iseng baca surat setelahnya, surat al-ma’arij. Sesampainya di ayat 5, saya kembali ke ayat pertama. Saya ulang beberapa kali bacaannya. Qadarullah, anak sulung saya faiq yang baru berusia 4 tahu, dia bisa membersamai saya membaca surat al-maarij ayat 1-2, padahal dia sedang asyik bermain lego. Ketika ayat lima berlalu di lidah saya entah yang keberapa kalinya, فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا seolah menjadi mantra. Mantra dimana saya mengurungkan niat keluar dari grup ODOA di whatsapp. 

Satu bulan berlalu dengan surat al-ma’arij, فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا selalu terbaca dan menjadi mantra yang berulang. Di lain kesempatan, di bulan yang sama di grup ODOA juz 4 saya berhasil berada di urutan 5 teratas karena setor selalu tepat waktu selama 2 minggu berturut-turut. Di bulan yang sama pun Allah takdirkan saya menjadi utusan kecamatan cidadap mengikuti Training of Trainer Ahlan Quran. Bak gayung bersambut, seperti sebuah hidayah yang perlu saya terima. 

Dua hal yang melekat, yang menyadarkan diri saya betapa rangkaian kejadian ini adalah sebuah hidayah dan karunia Allah. Pertama, saat menjadi utusan dari kecamatan artinya saya harus siap untuk menyampaikan kembali materi yang di dapat selama empat hari. Kedua, Saat mendengar sambutan yang disampaikan oleh Prof. Maman Abdurahman sebagai Ketua BAZNAZ Kotamadya Bandung, beliau bertutur yang kurang lebih isi pesannya begini, “Kami diamanahi zakat oleh para muzzaki, kami harus mengelolanya dengan baik dan harus menyalurkannya dengan baik pula” beliaupun menambahkan, “bahwa harta yang dititipkan oleh para muzzaki ini adalah amanat besar, yang kami pun akan salurkan sebaik mungkin”, tegasnya pula “semoga acara ini dapat dijalankan dan dimanfaatkam dengan sebaik mungkin. Karena kami mendanai acara ini”. Bagi saya, menjadi orang yang diamanahi oleh kecamatan dan diberi amanah oleh para muzzaki adalah dua hal yang harus saya indahkan sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab, dan dua hal ini adalah hal yanv memotivasi saya bersungguh-sungguh selama empat hari ketika dikarantina. 

Bersambung …

Diposkan pada Tak Berkategori

Kawan Galau Ayah-Ibu Muda 

Bagi pasangan yang baru saja menikah, memiliki anak adalah impian terbesar bagi mereka. Namun sayang, tidak semua keinginan besar ini dibarengi dengan bekal untuk mendidik anak-anak mereka. Ayah-ibu muda sering dibuat kalap saat anak-anak mereka mulai “bertingkah”. Ledakan emosi sering menyembur, stres dengan kondisi baru seringkali hadir, mengeluh sana-sini sering terjadi. Karena minim pengetahuan tentang anak, akhirnya masa eksplorasi dan golden age anak tidak dapat orangtua maksimalkan untuk bekal kehidupan sang anak dikemudian hari. Padahal anak yang hadir ditengah-tengah mereka adalah anak yang diminta oleh mereka berdua kepada Sang Pencipta, yang seharusnya permintaan itu dibekali juga dengan cara membersamainya. 

Permasalahan dalam mendidik anak tidak akan pernah selesai di bahas, selain manusia adalah makhluk yang dinamis, lingkungan dan kondisipun berubah sangat cepat dan drastis. Kondisi ini menuntut para orangtua untuk bergerak cepat bahkan harus berlari saat mendampingi anak-anak mereka tumbuh dan berkembang. Rasa sayang memang tidak akan pernah luntur dari orangtua untuk anak-anaknya, namun seringkali apa yang dirasa tidak sejalan dengan apa yang diperbuat.

Jamam berkembang selalu dibarengi dengan konsekuensi-konsekuensi logis yang ada, entah itu konsekuensi positif ataupun negatif. Yang jelas, saat konsekuensi itu berimbas pada tumbuh kembang anak kita, kita sebagai orangtua harus mampu mengimbanginya dengan ilmu yang mumpuni, agar kita beserta anak keturunan kita selamat sampai ke surga. 

Teknologi yang ada saat ini, ternyata banyak sekali berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak kita dari yang pengaruhnya baik sampai negatifpun terjadi, dan tanpa kita sadari ternyata berpengaruh juga kepada orangtua. Dengan segudang tugas kantor yang menumpuk, anak selalu diberi gawai agar dia anteng dan orangtua dapat mengerjakan tugas tepat waktu. Saat gawai menyediakan banyak fasilitas, kitapun sering mengabikan kebutuhan psikis anak-anak kita. Betapa jaman menuntut kita banyak berfikir dan bertindak. 
Saat orang tua tidak hadir dalam tumbuh kembang anak, siapakah yang akan menggantikan posisi kita? Nenek-kakeknya kah? Paman-bininya kah? Atau siapa? Sesungguhnya, peran kita tak akan dan tak pernah bisa tergantikan bagi anak-anak kita. Kemandirian, kedewasaan berfikir, ketegasan dalam bertindak, dan berbagai keterampilam hidup yang harus dimiliki oleh seorang anak seyogyanya harus dibekali dan bermula dari kedua orangtuanya. 

Buku yang ada dihadapan anda akan membahas seputar permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi dan diperbincangkan oleh para orangtua muda dalam mendamping anak. Berwujud seperti buku saku, semoga buku “Kawan Galau Ayah-ibu Muda” ini menjadi tambahan referensi dan membuat percaya diri dalam mendidik anak semakin meningkat. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Langkah Konkrit Membumikan Buku(ku)

Sampai saat ini, saya belum melirik satu penerbit buku untuk diajak kerjasama 🙈 Masih PR bagi saya mencari penerbit yang oke dengan buku yang akan saya buat. Tapi, untuk segmentasi buku, saya berencana akan mengajak guru-guru di forum yang saya terlibat di dalamnya untuk membedah sedikit isi buku yang saya buat. 

Pemasarannya melalui forum diskusi atau bedah buku bersama kawan-kawan guru, entah itu forum on line atau forum offline. Publikasi yang di tempuh sepertinya akan murni melalui flyer digital yang saya buat sendiri, karena saat ini pemasaran digital dianggap lebih cepat menyebar. 
Saya berharap, harga buku saya tidak lebih dari 30 ribu, karena sasaran penjualan saya orang menengah ke bawah yang minim pengetahuan parenting. Bukunya pun tak boleh melebihi ukuran A5, biar bisa dibawa kemana-mana. Karena niatnya buku ini ingin seperti buku saku atau buku pedoman, yang mudah dibawa, gampang dibaca dan jika urgen bisa cepat dikonsumsi. 

Sebenarnya ekspektasi saya pada buku ini besar sekali, tapi… Semoga Allah memudahkan niat baik saya ini dan melancarkan segala ikhtiarnya. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Konsep Buku Pendidikan

Dari banyak ide tulisan yang tersirat di dalam benak saya, rasanya saya akan menulis buku nonfiksi yang tidak begitu serius. Rencana awalnya, saya akan menulis konten yang sering diperbincangkan oleh para orangtua, misalnya tentang kemandirian anak, keterlibatan ayah-ibu saat mendapingi anak, fitrah manusia sebagai based education, membahas anak aqil baligh dengan meluruskan istilah remaja, mengapa orangtua harus terlibat dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya dan lain-lain.

Mungkin judul yang cocok untuk buku yang saya tulis adalah “Rujak Parenting” atau “Buku Saku orangtua zaman now” atau “Teman Galau Ayah-Bunda Muda”. 

Desain bukunya ukuran kecil, mungkin di bawah A5, agar bisa dibawa kemana-mana, covernya agak tebal biar anti badai alias gak gamoang rusak. Yang terbayang warna covernya adalah warna biru dongker dengan kuning. 

Tujuan dari penulisan buku ini, agar para orang tua bisa menambah wawasannya untuk bisa mendampingi anak-anaknya mendekati pengasuhan yang sempurna. Visinya, agar tidak ada lagi orangtua yang gagap mendidik anak atau merasa tidak percaya diri mendidik anak. Misinya menjadi buku yang mudah didapat, tidak terlalu mahal bahkan bisa gratis untuk kalangan-kalangan tertentu dan bisa mudah di jumpai. 

Sasarannya adalah orang tua muda dan orang tua yang dipandang sulit untuk mengikuti kelas-kelas parenting, kemudian orangtua murid. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Pentingnya Peran Seseorang yang Mampu Mengaktifkan Akal

Indonesia mendapat peringkat ke-4 sebagai negara yang menyandang gelar “Fatherless Country” Sejak bergulirnya era industri, para orangtua terutama ayah lebih merasa memiliki beban yang sangat penting untuk bekerja dibandingkan beban sebagai orangtua yang memiliki peran penting untuk mengaktifkan akal seorang anak. Para ayah lupa akan pesan Allah dalam al-quran. Dalam al-quran disebutkan bahwa dari 17 ayat tentang percakapan orangtua dan anak terdiri satu ayat yang menjelaskan tentang percakapan: ayah, ibu dan anak. Dua ayat yang menerangkat percakapan ibu dan anak dan 14 ayat sisanya membahas tentang percakapan ayah dan anak. Ini menggambarkan bahwa, keterlibatan seorang ayah, intensitas bertemunya seorang bapak dan anak, serta yang paling bertanggung jawab dalam hal pendidikan anak adalah seorang ayah.

Dalam budaya kehidupan keluarga patriot terkesan bahwa, seorang ayah hanya berkewajiban mencari nafkah dan rasanya haram jika seorang bapak terjun ke ranah domestik atau mengurusi anak-anaknya. Padahal, Rasulullah sendiri tidak mencontohkan hal yang demikian. Dalam banyak hadis disebutkan, bahwa Rasulullah sangat menyayangi anak-anak, Rasulullah pun membantu pekerjaan rumah tangga seperti menjahit dan lain-lain. Pertanyaan terbesar saya, “Jika Rasulullah adalah uswatun hasanah bagi para bapak. Lantas mengapa, dalam bab mendidik anak atau dalam hal menemani anak seorang bapak tak mau terlibat? Siapakah sebenarnya telafan para bapak ini? 

Saat ada diskusi on line di grup Whats App tentang “Ayah Si Pencari Nafkah” seorang bapak muda ditanya oleh saya “Apa isi materi diskusinya?” beliau menjawab, “Isinya seputar kewajiban suami yang mencari nafkah.” ia terus menyampaikan dengam mafas tersenggal “Nafkah terbesar suami bagi keluarganya adalah menafkahi keluarga dengan ilmu pengetahuan” kemudian bapak muda ini seperti mendapat jalan buntu, dan memggerutu “Terus gimana dong ya? Klo kita menyediakan 2 hari untuk bekerja dan 5 hari untuk keluarga?” saya membalas, “mangnya kenapa?” dia menjawab tegas, “tadi narasumbernya bilang. Bahwa sebaiknya 5 hari waktu bekerja itu diganti menjadi waktu kita bersama keluarga, dan dua harinya untuk bekerja. Mana perusahaan yang modelnya kayak begini?” saya ikut mengernyitkan dahi sambil berkata dalam hati “ia juga”. 

Setelah kami melanjutkan perbincangan, ternyata seorang ustadz yang menjadi narasumber pada diskusi on line itu berpesan kepada para bapak, agar porsi waktu yang kita miliki lebih dibanyakan untuk keluarga, terutama anak. Karena ketika ayah tidak terlibat dalam pengasuhan, seorang anak akan melemah daya juangnya, seorang anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar disiplin dan seorang anak akan haus kasih sayang seorang bapak. 

Peran seorang bapak sesungguhnya tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi saja, namun lebih banyak daripada itu. Saya teringat quote yang disebutkan oleh ustadz Aad, katanya “Begitu kutahu beratnya tanggung jawab seorang ayah di akhirat kelak, rasanya ingin aku menjadi seorang bunda saja”. Ustadz Aad, atau ustadz Adriano Rusfi ini adalah penghiat parenting juga, beliau adalah seorang psikolog, beliau juga menulis sebuah buku yang berjudul “Menjadi Ayah Pendidik Peradaban”. Selain itu, beliaupun membina komunitas Lukmanul hakim (komunitas bagi para ayah), komunitas feminitas (komunitas bagi para ibu) dan komunitas Home Education Baset Talent and Akhlak (Hebat). Ketiga komunitas ini beliau bina untuk membekali para orangtua muda, agar terlibat dalam pendidikan anak sesuai dengan fitrah hiduo sang anak dan fitrah hidup ke ayah-bundaan. Jika, katakanlah pakar pendidikan dan psikolog sudah berkata demikian (quote yang saya kutip di atas), artinya kita perlu efort untuk sama-sama berjuang dengan apa yang sedang beliau perjuangkan. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Cita-cita Mulia Sebuah Keluarga

Awal mulanya, ibu Tati ini bercita-cita ingin anak-anakmya kelak bisa mengaji dan membaca al-quran oleh sendiri (tidak di masukan ke sekolah atau dicarikan seorang guru mengaji). Katanya, “Saat usia anak pertama saya 5 tahun, saya menyekolahkan anak saya ke sebuah RA yang ada di dekat rumah, karena harus ikut suami bertugas akhirnya kami berpindah rumah, anak sayapun berpindah sekolah. Saya masih mencarikan RA sebagai pengganti sekolah pertamanya. Kenapa RA? Karena materi ajarnya bermuatan agama (Islam). Selesai bersekolah, kamipun harus berpindah rumah kembali, tapi kini anak pertama zudah kelas satu SD. Di tempat tinggal baru kami, ada sebuah masjid yang berada di tengah komplek dan terdapat sebuah madrasah. Sayapun memasukan si sulung ke madrasah tersebut untuk belajar mengaji. Satu tahun berlalu, kamipun berpindah kembali ke tempat asal. Sejak lahir, anak saya tinggal di sini, dan Alhamdulillah kembali lagi ke sini. Si sulung termasuk anak yang memori ingatannya kurang kuat, entah karena metode belajarnya tidak pas atau karena tempatnya belajar tidak membuatnya nyaman. Akhirnya saya hanya memintanya mengaji di rumah bersama saya. Tapi, si anak terlihat bosan dan cenderung kaku belajar berdua saja bersama saya. Akhirnya saya berdiskusi bersama kedua orangtua saya dan meminta izin agar mushola rumah kami dijadikan tempa mengaji.”

Orangtua ibu Tati adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang agamis. Bapak dan ibunya selalu membuat acara pengajian di rumah, menghadiri majelis ta’lim, bahkan menjadi penceramah dalam majelis tersebut. Hingga pada saat ibu Tati mencarikan teman mengaji untuk anaknya, ayah-ibunya mengumumkan di setiap majelis yang di sambangi agar anak atau cucunya didorong untuk datang ke rumah dan mengaji bersama. Saat itu guru mengajinya adalah ibu-bapaknya bu Tati dan ibu Gati sendiri. Pak Haji (sebutan bapaknya bu Tati) mengajari anak senior, usianya usia SMP atau anak-anak SD kelas 5-6 yang sudah pandai membaca Al-quran. Sedangkan Bu Haji (Sebutan istri pak haji) mengajari anak-anak yang baru saja lulus iqra. Terakhir, ibu Tati ini mengajari anak-anak yang masih Iqra karena anak sulungnya saat itu baru iqra 2). 

Ibu Tati bertutur, setelah membuka kelas mengaji di rumah anaknya semakin meningkat bacaan al-qurannya. “Mungkin si kakak punya motifasi lebih saat memgaji bersama teman-temannya dan tidak usah pergi jauh ke sebuah madrasah untuk mengaji” tambah bu Tati. Sejak saat itu, sekitar tahun 1998 rumah kediaman ibu Tati dan keluarga selalu ramai didatangi anak-anak yang ingin belajar mengaji dan belajar agama. 

Saat ditanyakan, “Adakah muatan ilmu agama yang lain yang dipelajari di sini?” ibu Tati menjawab “Di At-ta’limah (nama majelis ta’limnya) tidak saja belajar iqra atau baca al-quran. Kamipun memberi sedikit pengetahuan ilmu tajwid, hadis-hadis dari kitab bukhori, praktik shalat, hafalan doa-doa, surat pendek, terjemahan al-quran perkata, mahfudzoh, dan ayat-ayat pilihan populer. Tujuan kami adalah memperkenalkan ajaran Islam sejak dini pada anak-anak kami dan anak-anak tetangga kami” Di At-Ta’limah juga ternyata tidak hanya ada pengajian untuk anak-anak, tapi ada juga untuk ibu-ibu satu minggu satu kali, dan untuk bapak-bapak satu bulan sekali. Ketika ditanyakan, ternyata tujuan keluarga ibu Tati ini sangat mulia. Alasannya selain karena di RT tempat tinggal keluarga tidak ada masjid, Pak Haji pun menginginkan tempat tinggalnya digunakan dan dimanfaatkan untuk kebaikan dan semoga menjadi amal jariyah bagi siapapun yang terlibat di dalamnya. 

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2000-2003 At-ta’limah menambah kelas mengajinya, pagi hari untuk anak usia dini, bada dzuhur untuk anak-anak kelas 1-3 SD dan ba’da ashar untuk anak-anak kelas 4-5. 

Di tahun 2003 At-ta’limah didaftarkan ke Departemen Agama Kota Bandung agar keberadaan madrasah yang dikelola oleh keluarga besar bu Tati memiliki izin resmi dan dapat dibina oleh depag. Sejak tahun ini, At-ta’limah memiliki tiga jenjang pendidikan non formal yang telah diakui oleh depag. Jenjang Taman Kanak-kanak al-Quran (TPQ), jenjang Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) dan jenjang Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA). Dimulai di tahun ini pula, At-ta’limah memiliki kurikulum belajar di tiap jenjangnya, memiliki buku paket untuk materi ajarnya dan dapat mengikuti Ujian Nasional Madrasah secara mandiri. 

Bagi ibu Tati dan keluarga, semua ini merupakan pencapaian yang luar biasa demi menghidupkan dan melestarikan ajaran Islam di lingkungannya. Ternyata, ini pun adalah cita-cita Pak Haji sedari dulu. Yang saya kagumi, ternyata cita-cita Pak Haji ini menjelma menjadi pola kaderisasi untuk anak keturunannya. Saat ini, cucu-cucunya (anak sulung dan anak kedua ibu Tati) terlibat untuk mengajar di At-Ta’limah, selain itu ada pula murid Pak Haji dan ibu Tati yang sudah separuh baya diminta untuk memgajar di At-ta’limah. 

Ternyata, dua tahun lalu Pak Haji telah meninggal dunia. Amanatnya selama hidup pada anak, cucu dan muridnya untuk terus mempertahankan majelis ta’lim ini tetap berjalan. Bagi saya, pola pengkaderan yang Pak Haji gulirkan sukses berjalan. Buktinya, walaupun sosoknya sudah tiada namun semangat dan amanahnya tetap menggelora. Semoga Pak Haji, keluarga besarnya, dan seluruh orang yang terlibat di dalamnya mendapatkan keberkahan dari Allah swt. Aamiin

Diposkan pada Tak Berkategori

Organisasi Kader : Bidang Pendidikan

Saya tertarik pada sebuah organisasi bernama Persatuan Islam yang di dalamnya terdapat beberapa bagian otonom; Persis, sebutan bagi anggota yang berusia sepuh atauh bapak-bapak. Persistri (Persatuan Islam Istri) bagi yang berusia sepuh dikalangan ibu-ibu. Pemuda Persis bagi lelaki berusia pemuda. Pemudi Persis bagi wanita yang berusia pemudi, dan HIMA-HIMI Persis di kalangan mahasiswa. 

Dari otonom yang Persis miliki, saya tertarik pada Pemudi Persis. Anggota Pemudi Persis berusiakan 16-30 tahun. Lantas apa yang membuat saya tertarik? Disemua jenjang, para pengurus (termasuk anggota) dan kegiatan yang Pemudi Persis selenggarakan, saya selalu mendapati mereka penuh sesak dipadati oleh para  remaja dan ibu muda yang mengikut sertakan anak-anak balitanya dalam setiap kegiatan. Bagi saya ini bukan hal yang mudah, terlibat dalam organisasi dakwah dan tetap mengutamakan tugas utamanya sebagai seorang ibu adalah dua hal yang harus dihadapi dan diatur dengan time managemen yang tinggi, belum lagi ketika ditanya ternyata merekapun ada yang juga berprofesi sebagai guru, bidan, nakes, dan karyawan disebuah perusahaan. 

Saya mencarai tahu apa sebenarnya yang menjadi tujuan organisasi Pemudi Persis ini dibentuk. Ternyata tujuan Pemudi Persis ini dibentuk untuk memenuhi 3 aspek. Aspek pendidikan, aspek dakwah dan aspek sosial. Dari ketiga aspek ini, saya tertarik pada aspek pendidikan yang Pemudi Persis gulirkan. Saya bertamya kepada Risa Fitriyani sebagai Kabid Tarbiyah Pimpinan Pusat Pemudi Persis. Pertanyaan saya meruncing, “Apa latar belakang bidang Tarbiyah dibentuk di Pemudi Persis?” Beliaupun menjawab, “Karena tujuan dari organisasi Pemudi itu sendiri kan senada denga Persis yang memfokuskan gerakan pada bidang pendidikan, dakwah dan sosial kemsyarakatan.” Beliau juga menegaskan bahwa, “Di Pemudi bidang garapan dakwah dan pendidikan dicover dalam satu bidang, yaitu bidang Tarbiyah. Berbeda dengan di Persis dan Persistri, bidang tarbiyah terpisah dari bidang dakwah.” Kabid Tarbiyah pun menambahkan, “Kemudian di bidang tarbiyah pemudi ada tambahan bidang garapan seni dan budaya.” Pandangannya, bidgar (bidang garapan) seni budaya masuk di bidang tarbiyah, karna seni dan budaya itu bisa diciptakan melalui proses tarbiyah, ada pembelajaran, kesadaran dan kemudian pemahaman hingga menjadi sebuah karya.

Saat ditanyakan, “Kemudian, pendidikan apa yang difokuskan di Pemudi Persis?” Risa menjawab, “Pada awalnya pemudi menggarap beberapa praktik pendidikan seperti mengajar para napi, terus pengelolaan PAUD. Namun kedua hal ini tidak berlanjut, terutama pada pengelolaan PAUD, karena hal ini sudah digarap oleh persistri” Risapun menambahkan, “Saat ini dibidang pendidikan, pemudi ingin memfokuskan pada pendidikan kader: untuk menjadi mublighat (yang terangkum dalam pembuatan kurikulum taujihatul mublighat) dan untuk mebekali anggota agar memiliki kualitas keilmuan yang dibutuhkan seperti dalam seminar-seminar, kopca (komunitas pecinta al-quran) dan halaqah dalam realisasi dibidang kaderisasinya” 

Saya mengambil kesimpulan, bahwa apapun gerakan dakwah yang kita perankan, proses pendidikan sangat perlu ditempuh agar hasil dakwah sezuai dengan apa yang dicita-citakan. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Tujuan Buku Nonfiksiku

Menulis sebuah buku adalah cita-cita saya sejak kelas 1 SMA. Saat mengikuti acara bedah buku, salah satu narasumber bertutur “Jangan hanya jadi penikmat buku. Buatlah sebuah buku dan semoga menjadi amal jariyah. Jika gajah mati meninggalkan gading. Maka manusia mati meninggalkan karya” 

Sejak saat itu impinan saya menggantung, namun hanya samar-samar. Hanya sebatas ingin, dan tidak menempuh ikhtiar yang semestinya. Hingga lulus kuliah dan memiliki anak satu, menulis masih menjadi minat terbesar saya dan menulis buku masih hanya menjadi impian samar yang menggantung. Namun Allah berkata lain, saya yang bergabung di organisasi Pemudi Persis ditakdirkan untuk mengemban amanah sebagai kabid humas. Dimana tugas-tugas humas adalah terjun juga dalam dunia kepenulisan. Melalui program  kerja yang ada, akhirmya pemudi persis melahirkan sebuah buku antologi dan saya termasuk dalam salah satu kontributornya. Impian saya 11 tahun yang lalu terjawab. Berbarengan dengan ini, dengan takdir Allah saya dipertemukan dengan komunitas ODOP. Di komunitas ini saya dituntut kembali untuk menulis setiap harinya. 
Setelah kelas pra odop dapat saya taklukkan, saya melanjutkan kelas non fiksi sebagai keseriusan saya dalam menulis, dimana salah satu tantangannya adalah membuat buku individu. Ini seperti dayung bersambut, tantangan ini tidak hanya saya maknai sebagai menggugurkan kewajiban tapi juga sebagai cara Allah mewujudkan impian saya. 

Buku non fiksi yang nanti saya buat, insyaAllah akan bertemakan pendidikan. Namun yang lebih aplikatif dan boleh jadi akan lebih banyak membahas parenting.

Diposkan pada Tak Berkategori

Refleksi Happy Teacher Day

Hari ini, hampir semua orang mentasybihkan ucapan selamat pada salah satu orang yang berjasa dalam hidupnya, “guru” Status di sosial mediapun bernada serup. Aku menjumpai percakapan murid dan guru yang memyejukan hati. “Bu, aku bingung!” keluh seorang murid. Lalu sang guru bertanya, “bingung kenapa? Ada yang bisa ibu bantu?”. Dengan hati-hati sang murid menyampaikan, “Aku bingung mau mengucapkan selamat hari guru pada ibu atau tidak. Karena bagiku, ibu lebih dari seorang guru. Ibu ibarat ibu kandungku yang sudi mendidikku tanpa pamrih. Ibu jangan bertanya, mengapa aku dan kawan-kawanku tak mengucapkan selamat hari guru! Doakan kami selalu, agar kami dapat selalu menghormati dan memuliakanmu”. Ibu guru hanya berbalas senyum, namun raut diwajahnya menggambarkan betapa ungkapan murid itu membuatnya haru. Mungkin juga sang guru mengeja dalam hati, “Semoga Allah selalu meluruskan niatku untuk menjadi pendidik. Walau tanpa pujian, walau tanpa sanjungan. Karena sebaik-baik balasan adalah balasanNya”.

—————————————————–

Kemudian aku menjumpai seorang guru yang bertabur pujian, pujian akan jasanya sebagai seorang guru yang mulia dan penuh adab. Sang gurupun membalas pujian dengan cara yang sama. Sehingga semua orang melihat dan mengetahuinya.

Namun dibalik pujian itu, aku pernah melihat dan mendengar dengan mata dan kepalaku sendiri, bahwa ada seorang guru yang pernah mengeluh mati-matian tentang kondisi anak didiknya, tentang sistem pendidikan yang tengah bergulir, dan segala keruwetan yang dihadapi seorang pendidik di lingkungan formal. 

Aku malu menyaksikannya. Sungguh aku malu. Pujian yang datang seperti tamparan, seperti sebuah istidraj dari Allah Naudzubillah tsumma.naudzubillah

Bagi para pengemban misi ilahi melalui dunia pendidikan, luruskanlah niat! Segala hal yang besebrangan yang tengah dihadapi, sikapilah dengan penuh hormat dan menjaga harga diri. Pribadimu bisa saja kau sembunyikan melalui paras dan sikap sopan santunmu, tapi itu semua bisa tercermin dalam adab prilakumu. Guru, digugu dan ditiru. Bukankan ini peran yang sangat mulia? Maka pantaskah jika kita mencorengnya dengan sikap ketidak dewasaan diri kita? Semoga Allah selalu melindungi segala pola dan tingkah laku seorang guru dari hal-hal yang merugikan. Semoga segala kebaikan tetap tercurah tanpa henti, agar misi Ilahi tetap berjalan dalam kehidupan ini. 

Diposkan pada Tak Berkategori

​Ketahana Keluarga Sebagai Pondasi Peradaban

Keluarga seringkali dikaitkan dengan miniatur sebuah masyarakat, miniatur sebuah bangsa dan miniatur sebuah negara. Keluarga pun sering disebut sebagai motor penggerak kaderisasi bagi sebuah peradaban. Di tengah banyaknya pekerjaan yang ibu lakukan, beragamnya amanah yang ayah emban, mendidik anak adalah salah satu kewajiban mereka sebagai orangtua yang harus tetap berjalan.

Ketahana keluarga adalah satu-satunya upaya agar pola kaderisasi sebuah keluarga untuk peradaban berjalan pada jalur yang tepat. Ketahanan keluarga yang dimaksud adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik-materil, psikis-spiritual untuk hidup mandiri, serta dapat mengembangkan diri dan keluarga untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan dan kebahagian batin.

Ketahanan keluarga tidak akan berjalan dengan baik jika fungsi keluarga tidak berjalan. Fungsi keluarga meliputi; fungsi keagamaan, fumgsi sosial-budaya, fungsi cinta-kasih, fungsi melindungi, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan yang terakhir adalah fungsi pembinaan lingkungan. Ketahana keluarga akan terwujud, jika kedelapan fungsi keluarga berjalan secara seimbang.

Untuk membangun ketahanam keluarga, Islam telah melandasinya dengan landasan syar’i dalam Q.S At-tahrim ayat 6. Dalam ayat tersebut, ketahanan keluarga dalam islam adalah suatu konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga islami dari virus kejahiliyahan, agar amalan-amalan Islam tetap eksis.

Adapun dasar-dasar ketahanan keluarga dapat ditinjau dari visi-misi hidup yang benar, komitmen keislaman yang kokoh, persepsi yang utuh tentang rumah tangga, serta keterpaduan dan kemitraan dalam rumah tangga.

Semoga rumah adalah tempat pengkaderan terbaik dan orangtua adalah sebaik-baik pemberi nasihat dan pelajaran bagi generasi penerus.

Diposkan pada Tak Berkategori

Memilih Sekolah Peradaban

Sekolah sering kali dijadikan satu-satunya lembaga yang dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,  yang dapat mengangkat harkat dan martabat seseorang, dan yang dapat mengangkat derajat seseorang, sekolahpun dapat menjadi identitas sosial bagi pelakunya. 

Memilih sekolah artinya memilihkan tangan kanan orangtua dalam mengemban amanahnya sebagai pendidik. Memilihkan tempat yang dapat menjaga fitrah anaknya agar terus lurus pada agama Islam. Memilih sekolahpun artinya memilihkan bekal terbaik bagi anak-anaknya, mengingat keterbatasan diri orangtua. 

Sekolah bukanlah penyelenggara pendidikan tunggal untuk manusia, namun sekolah sering dijadikan jembatan atau alat bantu, agar tujuan hidup sebuah keluarga tetap berjalan dan akan sampai di tempat tujuan dengan selamat. 

Memilih sekolah artinya memilihkan bekal tebaik bagi anak sebagai bekal membangun peradaban di masa mendatang, berikut adalah tips memilih sekolah bagi anak: 

1. Pilihkan sekolah anak yang sesuai dengan visi, misi dan tujuan keluarga. 

Mengapa harus sesuai dengan visi, misi dan tujuan keluarga? Agar bekal yang sudah kita beri kepada anak di masa pra sekolah tidak terlupakan begitu saja, dan bisa lebih menguat dan menjadi penguat untuk pijakan sang anak. 
2. Pilihkan sekolah anak dengan tingkat pergaulan (di sekolah) yang baik

Bagi seorang anak, teman atau sahabat adalah bagian dari penguat kepribadiannya. Jika orangtua tidak bisa mengantarkan anak ke dalam lingkungan atau pergaulan yang baik, maka sang anak akan rusak begitu saja. Mengapa demikian? Karena ucapan teman lebih gampang dia terima karena bersifat ajakan. Berbeda dengan ucapan orang tua yang cenderung bersifat memerintah. Jadi, sangat perlu bagi orangtua untum memilihkan teman atau sahabat, pergaulan dan lingkungan bagi anak-anaknya. 
3. Pilih Sekolah yang Mau menerima Kritik atau mau diajak berdiskusi

Kritik merupakan feedback bagi lembaga pendidikan, agar proses pendidikan sekolah berjalan semakin baik dan sesuai kebutuhan peserta didik. Selain itu, sekolah yang mampu menerima forum aspirasi orangtua atau murid adalah sekolah yang ingin maju bersama dan ingin mencerdaskan anak bangsa. 

Memilihkan sekolah sama dengan memilihkan masa depan anak. Jika anak kita lurus semasa kecilnya, maka nanti ketika dewasa, ia akan teumbuh menjadi manusia yang lurus pula. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Menjadikan Proses Belajar sebagai Kegiatan yang Menyenangkan

Dalam pembahasan fitrah manusia, dari delapan fitrah yang ada fitrah belajar adalah salah satunya. Menurut wikipedia, belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons.

Dari definisi belajar di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa belajar adalah satu upaya agar setiap manusia memiliki perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam dunia sekolah formal, seringkali kegiatan belajar dipukul rata. Entah itu dari segi metode penyampaiannya atau dari segi materinya. Setiap anak adalah unik, mereka akan belajar dari keunikannya untuk menerima suatu ilmu. Sifat dan tingkah laku seseorangpun akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar.

Dalam dunia formal pendidika, satu kelas biasanya terdiri dari banyak anak, mereka belajar dengan metode yang sama dan terus berulang. Lambat-laun, keadaan seperti ini akan mencederai fitrah belajarnya. Selain itu metode penyampaian yang tidak sesuai dengan peserta didik akan berpengaruh terhadap pengaplikasiannya atau tujuan dari belajarnya itu sendiri. Oleh karena ini, ada beberapa poin yang bisa membantu proses belajar berjalan lancar dan mendapatkan hasil sesuai harapan. Berikut adalah penjelasannya:

1. Kenali Mood belajar
Belajar tidak hanya terbatas waktu, namun juga melibatkan mood seorang. Jika belajar berangkat dari rasa terpaksa, maka ilmu yang didapat hanya sebatas lewat. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Karena sesuatu yang dipaksakan tidak selamanya baik. Sebaliknya, jika kita belajar dengan mood yang ada, seringkali hal yang tidak seharusnya kita pelajari, kita akan tertarik mempelajarinya.

2. Kenali gaya belajar
Dalam buku-buku pendidikan banyak dibahas mengenai gaya belajar ini. Gaya belajar akan sangat berpengaruh besar pada pemahaman kita akan suatu ilmu. Gaya belajar akan menjadi alasan mengapa suatu metode pembelajaran harus disampaikan demikian dan demikian.

Gaya belajar pada umumnya dibagi menjadi tiga. Pertama, gaya belajar visual. Kedua, gaya belajar auditori dan yang terakhir adalah gaya belajar kinestetik.

Anak dengan gaya belajar visual, akan mudah memahami materi ajar ketika metode penyampaian guru menggunakan gambar, teks, diagram atau ilustrasi visual konkrit lainnya. Sedangkan anak auditori, mereka lebih senang jika pembelajaran disertai dengan penjelasan dari seorang guru, atau dengan kata lain dia harus mendengarkan sebuah penjelasan. Terakhir adalah gaya belajar kinestetik. Anak kinestetik tidak bisa belajar hanya melalui teks atau gambar, tidak cukup juga jika hanya melalui suara, anak kinestetik butuk gerak atau praktik agar materi ajar membekas dalam ingatan.

3. Motifasi Belajar
Motifasi belajar ibarat sebuah alasan, mengapa saya harus mempelajari sesuatu. Apa manfaatnya untuk saya dan apa yang akan saya hasilkan dari proses belajar ini. Seorang anak yang masih belajar formal perlu bimbingan dari guru atau orangtua agar semangat belajar terus membara. Memotifasi mereka dengan kata-kata positif adalah salah satunya, memberi jalan keluar ketika menemukan kesulitan dalam belajarpun adalah motifasi konkrit dalam menjaga semangat belajar seorang anak.

4. Memberi Apresiasi
Manusia adalah mahluk apresiasi, mereka perlu suatu respon ketika melakukan sesuatu. Memberi apresiasi akan menjadi mood boster tersendiri bagi sang anak. Selain mereka.merasa dihargai, merekapun merasa bahwa keputusannya untuk terus semangat belajar adalah hal yang baik yang juga disambut baim oleh lingkungannya.

5. Memberi Rasa Cinta
Agar semangat tak pernah padam, maka orangtua ataupun guru perlu menanamkan kecintaan belajar terhadap anak. Agar proses belajar menjadi suatu hal yang mereka idamkan, mereka rindui dan mereka tunggu. Hingga belajar bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan yang sama sekali tidak membebani.

Perintah belajar atau menuntut ilmu oleh islam dianjurkan dari mulai lahir sampai ke liamg lahat. Ini artinya, proses belajar itu afalah proses yang tidak akan pernah berhenti. Bayangkan jika fitrah belajar itu tercederai, maka istilah menuntut ilu sampai ke liang lahat sudah tidak ada lagi. Maka anjuran islam untuk.perintah yang satu ini tidak akan berjalan ataunbahkan hilang.

Diposkan pada Tak Berkategori

Mengajar adalah Bagian dari Mendidik

Sampai kapanpun pendidikan adalah hal yang akan dipertahankan oleh semua orang. Betapa tidak, bukankah melalui pendidikan banyak orang yang asalnya bukan siapa-siapa menjadi oramg yang dikenal oleh banyak orang. Banyak orang yang tadinya tak berdaya, menjadi berdaya setelah melalui proses pendidikan.

Berbicara keberhasilan pendidikan artinya berbicara juga orang yang mendidiknya. Seorang pendidik sering kali disebut sebagai guru. Guru yang baik adalah mereka yang dapat mengajarkan para peserta didik berbagai macam ilmu pengetahuan, sehingga ketika di dunia kerja nanti, manusia berpendidikan akan dibayar mahal karena hasil pendidikannya yang baik pula. Saat itu dan mungkin sampai sekarang, guru adalah manusia setengah dewa. Guru begitu dipuja oleh para muridnya, dihargai dan dihormati oleh orang-orang disekelilingnya. Guru selalu dianggap sebagai seseorang yang sangat berjasa dalam kehidupan seseorang, karena dari sosoknya akan lahir pula manusia-manusia mulia. Dari potret tersebut, orangtua mendorong dan mendukung penuh saya agar dikemudian hari menjadi seorang guru. Dan potret tersebut juga adalah motifasi saya mengambil jurusan keguruan disalah satu universitas di Bandung.

Saat menginjakan kaki di kampus, saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung, mendapat banyak wawasan, dan menjadi orang yang sangat terpelajar. Amat bangga saya saat itu menjadi mahasisiwi keguruan, apalagi setelah nilai Peraktik Pendidikan Lapangan saya A dan sebelum lulus saya sudah diterima mengajar di salah satu SD Swasta di kota cimahi.

Dunia pendidikan terbuka, saat saya menikah dan memiliki seorang anak. Saya merasa, dari 100 teori pendidikan yang saya dapat di kampus, hanya beberapa persen yang bisa saya aplikasikan ketika saya harus mendidik anak saya sendiri. Mengapa? Ya, karena sebagian besar teori yang saya dapat di kapus adalah teori mengajar seorang anak, bukan teori mendidik seorang anam. Selain itu, saya merasa menjadi seorang ibu rumah tangga dengan gelas S.Pd.I saja tidak cukup untuk membersamai tumbuh kembang anak saya.

Setelah membuka diri, bergabung dalam sebuah komunitas parenting dan belajar di dalamnya. Saya semakin paham, bahwa kegiatan mengajar dan mendidik itu adalah dua hal yang berbeda. Mengajar adalah salah satu kegiatan mendidik. Sedangkan medidik lebih luas dari sekedar mengajar, karena seorang pendidik harus mampu menjadi seorang fasilitator, seorang pelatih, seorang sahabat, seorang pendongeng, seorang teman dan masih banyak lagi peran seorang pendidik. Kegiatan mendidikpun bukanlah kegiatan satu arah, kegiatan mendidik adalah kegiatan dua arah, kegiatan berkolaborasi dan saling menyemangati serta menghargai.

Dalam proses pendidikan, tidak ada satupun kegiatan yang sia-sia (tidak bermakna). Semua kegiatan yang dihadapi oleh seorang anak adalah kegiatan pembelajaran yang harus difasilitasi, dirancang bahkan disengaja untuk pendidiknya. Namun, semua proses itu harus berjalan sealami mungkin, agar tidak ada paksaan. Karena proses belajai itu adalah proses yang panjang dan akan selalu dibutuhkan. Maka “haram” hukumnya jika seorang pendidik mencipta suasana tidak nyaman atau bahkan menjadikan kegiatan belajar itu adalah kegiatan yang membuat anak trauma menjalankannya.

Maka, jadilah pendidik yang menyenangkan yang mampu menjaga fitrah belajar peserta didiknya, agar semakin hari para peserta didik menjadi manusia penuh (sejuta) manfaat. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Alarm Tubuh

Alarm Tubuh 

Ada tiga hal penting yang mendasari sehatnya jiwa dan raga setiap manusia. Semuanya berawal dari ketiga pola berikut; pola makan, pola hidup dan pola pikir.  Pola di sini berlaku sebagai sesuatu yang di rencanakan dan dijadikan sebagai sebuah pedoman. Dari ketiga pola yang ada, pola makan dan pola hidup lebih sering digemakan ketimbang pola pikir. Padahal, dari ketiga pola tersebut, pola pikirlah yang amat sangat berpengaruh kepada kesehatan jiwa dan raga kita. 
Mengapa pola pikir disebut sebagai satu-satunya pola yang besar pengaruhnya? Karena daya pikir seseorang akan mempengaruhi segala tindak-tanduk pola perilaku kehidupannya. Jika pola pikir atau daya pikirnya baik, maka segala hal yang ia hadapi akan diterima dengan baik. Selain itu, percaya tidak percaya sebagian besar penyakit bermula dari sebuah pikiran. Penyakit yang bermuara pada lambung adalah salah satu penyakit yang penyebabnya bermula dari sebuah pikiran. 
Sebetulnya, tubuh memiliki alarm tersendiri jika ada suatu virus, bakteri atau wabah penyakit yang bersarang dalam tubuh kita. Misalnya, jika kita sering minum kopi renceng yang dijual di warung, kemudian jantung menjadi berdebar dan tangan menjadi berkeringan setelah mengkonsumsinya, itu tandanya tubuh kita mulai memberi respon bahwa apa yang kita konsumsi sudah tidak baik lagi bagi tubuh kita. Namun, karena pola pikir kita tidak terlatih untuk hal-hal yang demikian, karena kita sudah candu pada kopi tersebut akhirnya kita terus saja mengkonsumainya. Hingga pada suatu saat tubuh akan mengeluarkan alarm bahayanya, nafas menjadi sesak, badan terasa dingin. Setelah diperiksa oleh dokter ternyata asam lambungnya naik dan menyebabkan teganan gasnya naik bagian paru-paru dan menghambat sistem.pernafasan kita. 
Contoh lain, ketika kita berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu. Jika pola pikir kita baik, apa yang kita ketahui akan menjadi rem atas pola perilaku kita. Berlebihan dalam hal apapun dampaknya akan buruk, apalagi berlebihan dalam hal makanan. Misalnya, berlebihan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C, efeknya adalah akan mencret. Begitupun dengan mengkonsumsi makanan pedas. 
Selanjutnya, selain ketiga pola penting tersebut ada satu hal lagi yang paling penting. Apakah itu? Meminimalisir bahkan meninggalkan obat-obatan kimia. Kenapa? Karena kita perlu kembali kepada zaman dahulu, bahwa obat ternyata dapat diperoleh dari bahan-bahan alami yang ada disekitar kita. Walau pengobatan menggunakan herba tergolong memakan waktu, tapi kenapa tidak? kita bisa gunakan bahan-bahan yang ada guna memanfaatkan apa yang Allah cipta melalui tumbuhan-tumbuhan yang ada di sekitar kita. Tanpa menafikan manfaat obat kimia, namun obat-obatan herbalpun kini mulai mengalami masa kejayaannya. Apalagi, jika yang mengolah obat-obatan herbal ini memiliki ilmu yang mumpuni, maka sudah tak bisa diragukan lagi khasiat dari obat-obatan herbal ini. 
Sejatinya, apapun yang terjadi di dalam kehidupan ini, perlu kiranya kita libatkan pikiran kita agar apa-apa yang kita jalankan berdampak baik untuk kehidupan kita dan kehidupan orang-orang disekitar kita. Konsumsilah makanan-makanan yang baik. Berperilakulah sewajarnya (pola hidup), dan berfikirlah sepositif mungkin. Minimalisir hal-hal yang dapat membahayakan tubuh dan lingkungan sekitar kita. Semoga Allah senamtiasa menjernihkan pikiran ini, agar pola hiduo dan pola.makan dapat selesai kita hadapi. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Promosi Diri 

Sebagai satu-satunya upaya mempromosikan diri, kampanye selalu bermuat uang. Membewarakan diri dengan segudang visi-misi, mendatangi berbagai tempat untuk mempromosikan diri dan membawa buah tangan sebagai penegas diri, rasa-rasanya adalah hal yang lumrah terjadi. Seorang calon pemimpin harus merogoh kocek dalam-dalam agar kegiatan kampanyenya berjalan lancar.

Para calon pemimpin ini biasanya mendatangi sebuah kumpulan, entah itu forum guru atau forum pengajian, yang jelas sasaran mereka adalah perkumpulan yang masanya banyak agar sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Tapi biasanya sasaran kampanye mereka adalah forum pengajian di tiap daerah yang didatangi oleh ibu-ibu. Mungkin pertimbangannya, karena si ibu ini pendongeng, ia bisa jadi penyambung lidah pada orang-orang di sekitarnya (walau pada kenyataannya, ibu-ibu itu lebih sering ketika bunar, apa yang di jelaskan di forum suka lupa). Dalam forum tersebut, biasanya tim suksesi menawarkan untuk mengcover biaya kegiatan pengajian, termasuk di dalamnya fee pemateri, konsumsi pemateri dan hadirin, serta buah tangan berupa kerudung, stiker atau kalender yang memuat jargon-jargon yang mereka bumikan. Bagi saya upaya ini cukup efektif dalam mempromosikan diri, namun sayang masa yang dituju sudah membaca geliat para calon pemimpin ini. Sehingga, jika dipersenkan keberhasilan kampanye mereka mungkin hanya akan mencapai angka 50% saja. Bagaimanakah dengan sisa 50 persennya?

Bagaimana para pemilih akan yakin memilih para calon pemimpin ini ketika kampanye, yang menyampaikan nilai-nilai kebaikannya adalah para tim suksesnya. Kemudian, ketika kegiatan kampanyenya diselingi dulu dengan penyampaian dakwah, yang menyampaikannya bukan si calon pemimpin ini. Ketika kampanye masuk dalam acara-acara yang mengedukasi, lagi-lagi bukan calon pemimpin yang menyampaikannya. Bagaimana masyarakat akan mengenal dirinya? Berbicara saya masih harus diwakili.

Saya merasa, jika para calon pemimpin ini yang angkat bicara di dalam forum, para pemilih akan mulai tertarik pada pribadinya. Selain karena dia pandai berbicara, visi-misi yang akan dia wujudkan nanti akan memiliki ruh ketika disampaikan kepada masa kampanye. Atau seperti para relawan (tim sukses) yang dulu pernah berkampanye walkot di kota saya. Cawakot saat ini, ditiap daerah memiliki relawan, tugas relawan tersebut adalah membagikan selebaran seusai kegiatan kerja bakti (membersihkan gorong-gorong) di ruang publik. Kampanye ini sangat efektif, karena kegiatan kerja bakti dan menjaga ruang publik adalah salah satu program yang akan dia gulirkan nanti. Di dekat tempat tinggalnya, calon pemimpin tersebut sudah “turun gunung”, kemudian mengunjungi daerah-daerah yang lain juga, ya tujuannya untuk kampanye, menyatukan suara, agar satu suara. Hasilnya? Jangan tanya. Beliau menang telak.

Hemat saya, kampanye yang muatannya edukasi lebih membekas di hati bagi masyarakat, karena kehadirannya sudah memberi banyak manfaat. Sebelum terpilih saja sudah “menjalankan programnya” apalagi ketika nanti terpilih. Relawan atau tim sukseanya pun diberi pembekalan yang bergizi oleh calon pemimpin ini. Mereka diikutsertakan workshop, seminar, pelatihan, diskusi-diskusi kecil seputar kota, dan lain-lain. Mengapa? Agar ketika mereka bertemu dengan masa kampanye, kehadirannya memberi manfaat. Katanya, “walaupun tidak terpilih. Saya sudah berbuat sesuatu untuk kota kelahiran saya”

Pendidikan atau edukasi sejatinya harus membawa manfaat, bukan hanya untuk dirinya tapi untuk lingkungan sekitarnya. Memahamkan orang akan sesuatu dengan ilmu, efeknya akan jauh berbeda ketimbang hanya berkoar-koar tentang teori. Ini adalah poin plus ketika tidak semua orang mendapat kesempatan untuk berpendidikan tinggi, sedangkan akan menjadi ladang amal bagi mereka yang berilmu tinggi dan berharap amal jariyah dari ilmu yang didapat. 

Diposkan pada Tak Berkategori

Senandung Rindu

Ada sesuatu di masa lalu yang belum terselesaikan. 

Dia seolah mengakar di kedalaman hati yang entah sedalam apa. 

Dia seolah bertengger diujung hati, menunggu musim gugur yang entah kapan akan datang. 

Dia perlahan melambai, tertiup angin memori indah di masa itu, masa dimana kelunya hati belum sempat teretas dalam not-not yang entah itu apa.
Mungkinkah itu cinta yg tersisa? 
Sampai pada akhirnya, seolah waktu menjawab. Aku, dan masa lalu bertemu di masa kini, kami berdua bertemu bertatap hati, kami beradu canda dalam rindu-rindu yang mulai berguguran. Saat angin bertanya “adakah hatimu untuknya?” Dengan yakin, seluruh badan ini bertolak ke arah yang lainnya, arah yang mendefinisikan bahwa hatiku telah berlabuh pada hati yang lain. Bukan dia di masa lalu, tetapi pada dia di masa kini dan masa yang datang, dia yang telah mendefinisi indah dengan sangat tertata, dan semua itu nyata. 

Dan aku benar sadar, dia… dia yang bukan kudamba sejak dulu, tapi kini dan seterusnya… namanya akan selalu terlantun bersamaan detak dan nafas ini. 
Teruntuk masa laluku, terimakasih karena telah mengajarkanku arti sebuah perjuangan. Kemudian, untuk masa kiniku, terimakasih karena kau selalu di sampingku. kita akan selalu berjuang sampai waktu yang entah itu akan berakhir kapan. 
Karena cinta itu bisa memilih.

DIa bisa dipilih dan memilih pada siapa harus berlabuh, walau terkadang tambatannya masih suka tersangkut pada hal-hal yang telah berlalu. Biarkanlah hati yang menentukan, 

apakah harus bersatu, atau 

Bersatu dalam dua, atau 

bahkan satu yang terus mendamba dua, padahal didepan mata ada satu yg sejatinya layak didamba. Biarkanlah dia memilih

Diposkan pada Tak Berkategori

Sepakbola Indonesia

Saat sekolah dasar, sebagian besar teman-teman satu kelas saya amat menyukai pelajaran olah raga. Katanya, pelajaran olah raga itu gak usah mikir, cukup mau bergerak dan berkeringat. Hasilnya? Ya benar, nilai penjaskes kami rata-rata 80. Saat ditanya, olah raga apa yang paling disukai? Semua teman laki-laki satu kelas saya menjawab sepak bola. Benar saja, apapun yang mereka jumpai, hampir selalu di tendang dan diiluatrasikan menjadi bola. Sampah kertas digulung menyerupai bola, dan merekapun main gol-golan di dalam kelas. Berjumpa dengan bekas botol minuman, dijadikan juga bola untuk bermain di sepanjang jalan menuju pulang. 

Beranjak dewasa, saya mulai memperhatikan, mengapa hampir semua orang menyukai bola? Setelah diskusi dengan suami, ternyata sepak bola adalah satu-satunya olah raga yang merakyat. Bagaimana tidak? Bermain sepak bola bisa dilakukan di mana saja, bisa di gang, di depan tumah, di dalam rumah, di lapangan keras, di lapangan berumput, sampai di dalam kamarpun bisa. Medianyapun mudah ditemui, banyak warung-warung yang menjual bola pelastik dengan harga yang murah. Jika uang saku tak mencukupi membeli bola, kertas, koran dan botol minumanpun bisa digunakan untuk bermain bola. Gawangnya? Bisa menggunakan sandal, batu bata, ember, kayu dan masih banyak lagi. 

Selain olah raga yang merakyat, sepak bola adalah olah raga yang bisa dilakukan oleh semua kalangan. Selain itu, pertandingannyapun muda ditemukan. Eufora bola mewabah ketika sepakbola Indonesia menyelenggarakan laga. Setiap rumah di seluruh penjuru kota menyaksikan pertandingan liga ini, mereka membela para jagoan kotanya atau daerahnya masing-masing. Kini, pemain bola banyak diberitakan hidup berkecukupan, bisa dibilang bergelimang harta. Pemberitaan ini mendorong sebagian besar para orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah bola. Para orangtua berharap, ekonomi keluarganya dapat meningkat setelah menjadi pemain bola. 

Para orangtua yang menyekolahkan sepak bola anak-anaknya ternyata mendapatkan nilai lebih. Sang anak belajar arti kedisplinan dalam berlatih bola, belajar berjuang dalam berkompetisi, belajar mengatur strategi untuk mengalahkan lawan dan belajar kekompakan serta kerja sama agar apapun yang terjadi, mereka harus tetao membela dan berjuang dengan tim untuk mempertahankan gawangnya. 

Selain hal-hal di atas, para peserta sekolah bola, mereka akan besosialisasi dengan teman-temannya, menjalin keakraban dengan penuh kehangatan, bertambah teman, dan terus bertambah pengalaman letika melalui kompetisi demi kompetisi. Merekapun belajar akan arti sportifitas. 

Wahai para orangtua, jangan pernah berkecil hati ketika anaknya menggemari bola. Karena permainan bola mengandung banyak manfaat bagi kehidupannya kelak. Jika dia menjadi seorang ahli, maka rezekipun bisa didapat melalui jalan ini. Lihatlah para pemain bola dunia, Messi, Ronaldo, Roney dan masih banyak lagi. Mereka mendulang kesuksesan hidup melalui si kulit bundar tersebut. 

https://review.bukalapak.com/c/sport

Diposkan pada Tak Berkategori

Main Lego

Bermain adalah dunianya anak-anak. Sedang mandi, ia jadikan ajang bermain. Sedang makan, ia jadikan piring, sendok, nasi dan lauknya mainan. Pokoknya, segala yang ada di hadapan sang anak akan menjadi mainan. Tapi, walaupun demikian, sang anak tetap saja meminta dibelikan mainan. 

Kali ini, mainan anak-anak makin banyak ragamnya. Mulai dari pancing-pancingan, basket, masak-masakan, bola, lego dan lain sebagainya. Belum lagi dari satu jenis itu, terdiri dari bayak macam. Mainan bola saja ada bola basket, bola sepak, bola kasgi. Mainan legopun sekarang ada macamnya, ada lego yang berupa karakter super hero, berbentuk binatang, sampai lego yang berbentuk icon asia games. 

Rasanya bukan hal yang mudah mengarahkan anak memainkan suatu permainan yang sarat makna, apalagi sang anak sudah memiliki keinginan atau kecenderungan terhadap sesuatu. Butuh berpikir ulang jika kita mau menuruti atau membelikan mainan kepada anak. 

Satu tahun lalu, saya mengajak anak saya membeli sebuah mainan ke sebuah toserba, saya katakan “Akak boleh beli mainan yang mana saja” Tapi saat doi pilih mainan yang enggak banget, kemudian memilih beberapa mainan dan nyatanya permintaan doi melebihi budget. Kemudian saya memutar otak agar dia mau membeli mainan lego dan yeah akhirnya dia mau. Awal mula membelikan lego alasannya biar hemat anggaran, beli satu jenis mainan tapi bisa dibentuk jadi beberapa bentuk mainan, misalnya : robot-robotan, mobil-mobilan, rumah-rumahan dan masih banyak lagi.  Eh, tahunya dapat nilai plus. Faiq (anak sulung saya) dia sangat suka main lego, dia bisa berimajinasi banyak hal sampai dapat mengkontruksikannya melalui lego. 

Membuat kapal feri dari lego

Main lego itu menang banyak. Saya bisa ajarkan dia pengenalan warna, bentuk dan juga ukuran. Selain itu, mencocokan atau mengklasifikasikan lego bisa banget dipakai untuk meningkatkan kognitifnya, misalnya lego yang besar berkumpul bersama lego yang besar, yang berwarna kuning dengan yang berwarna kuning dan masih banyak lagi. Melalui mainan lego ini, faiq bisa banget bikin berbagai bentuk, bisa belajar berhitung dan bisa merangsang motorik halusnya melalui kegiatan koordinasi mata, tangan, dan pikiran saat me.buat sebuah bangun. 

Membuat bisa dari lego

Di zaman sekarang, kita semua yang belum bisa apa-apa bisa belajar melalui video on line (tutorial) hingga kita bisa melakukan apa yang ada dalam video tersebut. Faiq yang suka banget sama tire-x, dia menyengaja meminta saya mencarikan video on line tentang tire-x, walhasil hobi bermain lego dan kesukaannya pada dinosaurus bisa berkolaborasi. Faiq nonton tutorial membuat dinosaurus dari lego. Kemudiaan, dihari berikutnya dia mencoba mempraktekan video tutorialnya. 

Secreen shoot video membuat tire-x dari lego
Secreen shoot video membuat tire-x dari lego

Bagi saya, permain menggunakan lego adalah salah satu permainan yang mengasah imajinasi dan kreatifitas anak. Dia akan belajar banyak hal dari bermain lego, dan ibunya bisa membuat ragam permainan sambil belajar dengan menggunakan mainan lego ini. Kesukaan Faiq bermain lego, mulai menular pada adiknya yang baru berusia 15 bulan. Sang adik mengikuti kakaknya menyusun lego ke dalam suatu bentuk (walau bentuknya masih hanya kumpulan balok yang menyusun), bagi saya ini membantu sekali dalam mengaktifkan motorim halus anak tanpa harus menyengajanya dan merasa seorang anak sedang belajar. 
https://review.bukalapak.com/c/hobbies
https://review.bukalapak.com/c/hobbies

Diposkan pada Tak Berkategori

Meminjam Buku di Perpustakaan On Line

Jadi ibu dua anak rasanya datang ke perpustakaan jadi hal yang menguras emosi. Bagaimana tidak, bawa anak ke perpus pasti akan mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Belum lagi ketika kita sedang mencari buku, anak-anak pasti gak sabar untuk menunggu. Gabung di komunitas literasi, emak rempong dapat solusi. Katanya tinggal download aplikasi Ipusnas, hasrat membaca kita bisa terpenuhi. 

Ipusnas adalah aplikasi perpustakaan on line yang banyak menyediakan ragam buku untuk kita pinjam. Kategori buku yang bisa kita pinjampun banyak, dan menurut saya sangat lengkap.

Meminjam buku di Ipusnas cukup bermodalkan kuota. Kita tinggal memilih buku mana yang akan kita pinjam, misalnya buku parenting, kita tinggal klik pada gambar sampul bukunya nanti akan muncul sinopsis buku yang kita pinjam. Disana juga banyak para peminjam buku sebelumnya yang komentar tentang isi bukunya. Jika dirasa buku tersebut yang kita mau, disana tinggal klik tombol pinjam dan buku siap di baca. Masa peminjaman buku kurang lebih 2 minggu. Nanti setelah 2 minggu buku yang kita pinjam akan hilang di rak buku kita tanda waktu peminjaman sudah berakhir. 

Bagi saya, memiliki aplikasi ini sudah banyak menghemat uang. Salah satunya menghemat uang transpor pergi ke perpus dan uang pembelian buku. Hihi… 

Diposkan pada Tak Berkategori

Mainan Edukatif

Bagi seorang ibu yang memiliki anak di bawah usia 5 tahun, rasanya perlu memiliki segudang ide permainan untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Berbagai permainan dapat merangsang segala motoriknya, mulai dari main air sampai dengan main tanah. Anak dengan tingkat eksplorasinya yang tinggi, sering kali membuat orangtuanya kewalahan. Kewalahan bukan tanda menyerah, tetapi kewalahan karena kefakiran ilmu yang ibu miliki untuk memenuhi segala hasrat belajarnya. 

Gambar di ambil dari Fans Page Lulu Smart Bag

Ditengah kebingungan yang ada, rasanya ada banyak orang yang menangkap keresahan ini, mereka menjawab segala kekhawatiran yang terjadi dengan segudang solusi. Lulu smart bag, mainan edukatif yang seolah menjadi P3K saat ibunya kebingungan cari ide bermain untuk sang anak. Sebetulnya LSB (lulu smary bag) ini adalah sekumpulan peralatan yang sangat mudah kita temukan di sekitar kita, namun berkat kecerdasan si owner menangkap peluang yang ada, dia mampu menciptakan ide baru ini menjadi sebuah alat edukasi yang sangat menarik bagi anak dan orang tua. Dalam set LSB ini terdapat guide book yang membantu ibu dalam menyajikan mainan edukatif ini. Di dalam bukunya terdapat ide bermain dari alat-alat yang ada dalam kotak LSB. Ide permainannya berguna untuk  sensori play, mengaktifkan motorik halus, latihan konsentrasi, latihan fokus dan masih banyak lagi. 

Guide book yang ada dalam set Lulu Smart Bag

Sebetulnya, penggunaan LSB ini sangat bisa membantu ibu dalam memberikan permainan yang edukatif pada anak. Namun, kenyataannya tidak semua anak cocok dan tertarik menggunakan set LSB ini untuk bermain dan belajar. Jadi, sebelum seorang ibu memutuskan membeli alat edukasi ini ataupun alat edukasi yang lain, seorang ibu sangat disarankan untuk mengetahui kondisi dan ketertarikan anaknya pada sesuatu. Sebetulmya bisa saja, seorang anak yang tadinya tidak tertarik akan sesuatu mungkin akan menjadi tertarik jika ibu bisa memyajikannya dengan sangat epik, tapi percayalah itu butuh effort lebih.

Diposkan pada Tak Berkategori

Namanya Institut Ibu Profesional

Awalnya, kakak kelas saya di pesantren memposting open member komunitas IIP (Institut Ibu Profesional) regional Bandung. Katanya, “Buat ibu yang ingin tambah iomu dan berbagi ilmu pengasuhan. Boleh banget gabung di IIP” Saat itu, saya baru memiliki anak yang umurnya sekitar 7 bulan. Tahun 2015 adalah tahun kedua saya menjadi istri dan tahun pertama menjadi ibu, rasa-rasanya banyak banget ilmu pengasuhan (utamanya) yang harus saya gali, sepertinya dengan gabung dikomunitas ini saya bisa dapatkan itu. Selain itu, member di IIP kan pasti ibu-ibu juga, kayanya saya bisa sedikit-sedikit belajar menjadi seorang istri dari mereka. 

Di komunitas ini, kegiatan kami lebih banyaknya adalah kegiatan on line. Kegiatan off line hanya beberapa kali dalam sebulan. Tempat ngibrol kami sedari dulu adalah grup WA yang dibagi kedalam beberapa wilayah. Khasnya dari komunitas kami, setiap minggunya antar member menyetorkan Master Mind. MM (master mind) bagai kami sebagai plan dan evaluasi kegiatan keluarga yang berbatas waktu, sebagian besar MM kami berisi mini projec keluarga. Sharing ini memiliki tujuan untuk saling menyemangati dan memberi inspirasi, manfaat pribadinya adalah sarana evaluasi atau barometer terhadap planninh yang sudah kita rancang. 

Seiring berjalannya waktu, komunitas ini semakin banyak membernya, akhirnya ada ketentuan baru dari founder IIP agar para membernya lebih serius untuk belajar bersama di komunitas ini. Saat itu, kami bisa dikatakan member IIP legal jika kami mengikuti program matrikulasi. Berbondong-bondonglah saat itu para member (yang ilegal) agar statusnya legal. Kami mendaftar matrikulasi. Matrikulasi itu, kalau di dunia perguruan tinggi adalah ospeknya. Kami, para ibu digembleng. Penggemblengan bukan untuk komunitas IIP, tapi untuk kehidupan kita seutuhnya, kehidupan seorang ibu profesional. Baik ia sebagai anak, istri, ataupun orang tua. 

Matrikulasi berjalan kurang lebih 3 bulan. Setiap minggunya kami mendapat materi di grup WA, dan kamipun mendapatkan tugas dari materi tersebut. Lagi-lagi, tugasnya bukan untuk komunitas kami, tapi untuk keberlangsungan hidup kami. Di matrikulasi, kita belajar adab menuntut ilmu, kitapun dipandu oleh fasilitator grup WA untuk menemukan peran hidup kita di dunia, untuk.menemukan passion diri dan untuk menjadi ibu profesional. Di perkuliahan ini (matrikulasi), semua pelajarnya dapat lulus jika mengerjakan tugas sebesar 70%, jika kurang maka kami harus mengulang kelas matrikulasi di batch berikutnya. Di matrikulasi, materinya lebih condong kepada persiapan diri dan mencari kekuatan diri agar menjalankan peran sebagai ibu profesional berjalan lancar.

Setelah kelas matrikulasi, kami akan masuk kelas berikutnya. Namanya kelas Bunda sayang. Materi di kelas ini lebih dominan materi tentang kecakaoan kita sebagai ibu yang dengan sepenuh hati mendampingi anak. Kelas ini berjalan kurang lebih satu tahun. Setiap bulannya, kami mendapat materi, dalam sebulan itu 14 hari kami harus praktek. Dan pelaporan prakteknya kami harus menulis apa yamg kami praktekan melalui blog atau word yang di up load di google drive. Adanya komunitas ini, saya merasa amat terbantu. Kami mempelajari komunikasi produktif, financial planning (konsep menghitung), kemandirian, pendidikan seksual, mengenal gaya belajar anak dan lain-lain. Di kelas inipun sama, kami bisa lulus dengam syarat mengerjakan tantangan (tugas) sebanyak 70%. 
Bagi saya, Institus Ibu Profeaional adalah sekolahnya para orang tua untuk menjadinbaik dan lebih baik, untuk dirinya, untuk anggota keluarga terdekat, untuk saudara, dan untuk.masyarakat secara umum. Banyak kebaikan dan pelajaran dari komunitas ini, yamg tidak bisa saya jabarkan satu-satu. Saya yakin, founder komunitas ini memikiki banyak pahala, karena ilmunya tersebar dimana-mana dan dipraktekan oleh kami semua. Pasti amal jariyah banget buat bu Septi dan pak Dodik. Semoga Allah mengganjar kebaikan bapak dan ibu dengan sebaik-baik ganjaran. 
Alhamdulillah, niat awal saya belajar menjadi istri dan ibu melalui komunitas ini tercapai (walau tidak boleh merasa puas. Saya akan tetap belajar dari yang lain), bahkan lebih. Allah mah gitu da, selalu baik sama hambanya.

Diposkan pada Tak Berkategori

Hey Arnold Jungle Movie

Film kartun yang diproduksi tahun 2017 ini rasanya ditunggu oleh para penggemarnya. Bagaimana tidak, terakhir kali film “Hey Arnold” muncul di layar kaca kurang lebih belasan tahun lalu. Saya dulu tak begitu menggemari film ini, tapi klo tidak ada film kartun lain pasti saya tonton film ini. Saya benar-benar lupa alur cerita film ini, tapi setelah nonton film ini dengan judul “Hey Arnold Jungle Movie” saya jadi tahu, ini film kartun bukan untuk anak, tapi remaja. Filmnya cukup menghibur, alur ceritanya juga lumayan berbobot. 

Cerita utama dari film ini, Arnold mencari kedua orangtuanya yang sudah sekitar 10 tahun tak bertemu karena ada tugas ke San Lorenzo. Kedua orangtuanya bertugas untuk aksi kemanusiaan, karena di San Lorenzo ada suatu wabah lenyakit yang membuat si penderitanya tertidur selama bertahun-tahun. 

Setting ceritanya dominan di sekolah, tapi suasana sekolah sama sekali tidak mencerminkan suasana lembaga pendidikan berlangsung. Guru diabaikan ketika sedang memberi arahan, tak ada sopan-santun pada senior. Tapi nilai plusnya, pada film ini disampaikan betapa kehadiran orangtua apapun keadaannya adalah sangat ditunggu dan dibutuhkan oleh anak. 

Dalam film ini, Arnold dan kawan-kawannya sangatlah solid dalam menghadapi permasalahan yang terjadi. Mulai dari projek sekolah di liburan musim panas. Merekapun kompak ketika menjadi tawanan perompak sungai, karena kekompakan mereka akhirnya mereka dapat lepas dari para perompak itu. Mereka bahu-membahu saling tolong-menolong yang tujuan akhirnya adalah kepentingan bersama. Mereka tahu, mana persoalan yang harus lebih diperioritas untuk diselesaikan, mana yang tidak. Dan buah dari semuanya adalah semua tujuan yang mereka rencanakan dapat tercapai. 
Catatan pentingnya: 

  • Film ini bukan film kartun untuk anak di bawah 17+ tahun. 
  • Kehadiran orangtua sangatlah penting di tengah-tengah kehidupan seorang anak
  • Soliditas akan melahirkan kenyamanan hidup bersama
Diposkan pada review buku

Salah Kaprah Istilah Remaja

Setelah sekian lama, buku ini adalah buku pertama yang saya baca sampai tuntas dalam waktu satu minggu. Berjumlah 208 halaman, termasuk di dalamnya kata pengantar, daftar isi, sampai daftar pustaka. Dari halaman pertama yang saya baca, ada banyak insight yang saya dapat. Dr. Khalid Asy-Syantut sepertinya menjadikan penelitiannya ini sebuah buku, karena di dalamnya dijelaskan juga bagaimana penelitian tentang isi buku itu di tempuh berikut hasil penelitiannya tertulis dalam bukunya. 

Judul buku ini lengkapnya adalah Mendidik Anak Laki-laki (Bagaimana Menyiapkan Generasi Islam yang Unggul). Dalam buku ini ada 4 pembahasannya yang menjadi topik utama. Diantara pembahasannya adalah sebagai berikut:

1. Pemuda bukan remaja

Istilah remaja sudah mempengaruhi sebagian besar penduduk di dunia bahwa anak-anak remaja adalah mereka yang terkena penyakit. Remaja identik dengan anak yang susah diatur, keras, kasar, krisis kejiwaan, frustasi, perang batin, resah, banyak masalah  pemberontak dan penuh dengan ketegangan. Konsep umum remaja ini merupakan salah satu penelitian terhadap masyarakat Amerika yang hasilnya ini dikemudia  hari diberlakukan secara unum kepada seluruh umat manusia, yang seakan-akan masyarakat Amerika adalah contoh global umat manusia yang diciptakan oleh Allah. Dari sinilah kekeliruan itu berawal. 

Berbeda dengan istilah pemuda, pemuda diidentikan dengan dekatnya fitrah kepadanya. Pemuda adalah representasi mayoritas umat. Ia adalah generasi masa depan sekaligus ibu bagi generasi berikutnya (ikon umat), iapun perisai umat untuk menangkal serangan musuh. 

Catatan pentingnya : tidak semua orang akan melewati masa yang katanya remaja ini. Jika sang anak dididik dengan ajaran islam, dipenuhi kebutuhan fisik dan psikisnya dan dibesarkan dalam lingkungan islam, maka gejolak dimasa muda tidak akan terjadi. Contoh konkritnya adalah para sahabat Rasul yang diusia mudanya sudah ingin pergi berperang, kisah-kisah sahabat yang diusia mudanya sudah menjadi oenghafal Quran dan lain sebagainya. 

2. Masjid sebagai lembaga pendidikan

Dalam bukunya penulis berpesan, agar generasi islam menjadikan mesjid sebagai pusat peradaban, dimana ajaran islam digemakan dan dipelajari di dalamnya.

3. Memilih kawan

Memikih kawan adalah hal terpenting dimasa kehidupan. Memikih kawan artinya memilih gaya hidup. Karena kawan kita akan mempengaruhi sebagian besar hidup dan watak kita. Orang tua sebaiknya memilihkan kawan untuk anak-anaknya, karena jika anak sampai salah memilih kawan, segala hal yang kita ajarkan padanya akan runtuh begitu saja

4. Hikmah berkemah 

Dalam kegiatan berkemah ada banyak kegiatan yang bisa diikuti oleh para remaja rentan usia 12-21. Kegiatan berkemah ini sebagai salah satu upaya penyaluran energi yang dimiliki remaja, dan sebagai sarana aktualisasi diri mereka, agar kecenderungan-kencenderungan buruk yang dihadapi remaja dapat terurai melalui kegiatan berkemah ini. 

Bagi saya, buku ini sangat layak dijadikan bahan referensi bagi mereka yang tengah memiliki anak yang tidak hanya memiliki anak laki-laki, tapi juga anak perempuan. Buku ini amat sangat menampar saya yang dulu pernah terjebak dengan istilah remaja. Semua istilah remaja yang pernah saya dengar saat itu hampir 70% saya amini dan alami. Mengapa saya amini dan alami? Karena saya betul-betul mengiyakan kehidupan remaja saat itu, dan perilaku saya saat remaja, terinspirasi dari istilah remaja yang jelas-jelas salah kaprah. Semoga melalui tulisan review buku ini, menjadi awal mula terhapusnya istilah remaja dan para pemuda akan benar-benar menjadi ikon generasi peradaban.